PENGKAJIAN FISIK GINJAL

Perawat menggunakan alat dan teknik berikut jika melakukan pengkajian sistem urinarius.

Alat

  • Stetoskop

  • Sfigmomanometer dengan manset yang sesuai

  • Skala

  • Skort dan selimut

  • Mangkok spesimen urin

  • Sarung tangan


Teknik

  • Inspeksi

  • Auskultasi

  • Perkusi

  • Palpasi


Mengkaji struktur tubuh yang berhubungan

Sebelum mengkaji sistem urinarius klien, evaluasi dulu berbagai faktor yang dapat mencerminkan fungsi ginjal, termasuk berat badan, tanda vital, dan posisi tubuh. Kaji juga faktor dan struktur berikut untuk perubahan yang dapat terjadi bersama disfungsi sistem urinarius.

  • Orientasi – perubahan yang berhubungan dengan akumulasi toksin dan ketidakseimbangan elektrolit.

  • Mata – perubahan retinal berhubungan dengan hipertensi

  • Kulit – warna kuning tembaga, pucat, kering, turgor yang buruk, ekimosis, ptekiae, lapisan uremik, atau edema.


Menginspeksi meatus uretral

  • Selimut klien untuk membuka meatus uretral. Perhatikan lokasi meatus dan adanya rabas, pembengkakan, atau lesi.

  • Pada pria, meatus normalnya terletak dibagian sentral di ujung penis. Pada Wanita, meatus terdapat di garis tengah. Tidak ada rabas, pembengkakan, atau lesi harus dicatat.


Mengauskultasi arteri renalis

  • Auskultasi dengan bel stetoskop di kuadran kanan dan kiri atas.

  • Normalnya, Anda tidak mendengar adanya bruit.


Memperkusi organ urinarius

Perawat dapat memperkusi ginjal dan kandung kemih menggunakan teknik berikut.


Perkusi Ginjal

  • Dengan klien duduk tegak, perkusi setiap sudut kostovertebral (sudut di setiap ginjal yang tepinya dibentuk oleh kurva lateral dan ke bawah dari iga terbawah dan kolumna spinalis).

  • Untuk melakukan perkusi menengah, letakkan telapak tangan kiri Anda di atas sudut kostovertebral, dan dengan perlahan pukul telapak tangan Anda itu dengan kepalan tangan.

  • Untuk melakukan perkusi tumpul, dengan perlahan pukulkan kepalan Anda di Atas setiap sudut kostovertebral. Selama perkusi, klien secara normal akan merasakan sensasi seperti dipukul atau ditekan, tetapi tidak ada nyeri tekan.


Perkusi Kandung Kemih

  • Kemudian, gunakan perkusi menengah, perkusi area di atas kandung kemih, dimulai 5 cm di atas simfisis pubis.

  • Untuk mendeteksi perbedaan bunyi, perkusi ke arah dasar kandung kemih.

  • Perkusi normalnya menghasilkan bunyi timpanik. (Di atas kandung kemih berisi urin, perkusi menghasilkan bunyi pekak).


Mempalpasi organ Urinarius

Pada orang dewasa normal, ginjal biasanya tidak dapat dipalpasi karena lokasinya yang berada jauh di dalam abdomen. Tetapi, ginjal dapat dipalpasi pada klien yang kurus, klien lansia, atau klien dengan penurunan massa otot abdomen.

Jika dapat dipalpasi, kandung kemih normalnya keras dan relatif halus. Tetapi, ingatlah bahwa kandung kemih orang dewasa mungkin tidak dapat dipalpasi.

Sebelum mempalpasi organ-organ urinarius, pastikan bahwa klien telah berkemih. Menggunakan teknik bimanual, mulai pada sisi kanan pasien dan lanjutan sebagai berikut.


Palpasi Ginjal

  • Bantu klien ke posisi telentang, dan buka abdomen dari prosesus sifoideus sampai ke simfisis pubis.

  • Berdiri di sisi kanan klien, letakkan kanan kiri Anda di bawahj punggung, di tengah antara tepi kostal bawah dan puncak iliaka.

  • Kemudian, letakkan tangan kanan Anda di atas abdomen klien, langsung di atas tangan kirio Anda. Tekuk sedikit tangan ini ke arah tepi kostal.

  • Untuk mempalpasi tepi kanan bawah ginjal kiri, tekankan ujung-ujung jari kanan Anda sekitar 4 cm di atas puncak iliaka kanan pada garis midinguinal; tekankan ujung-ujung jari kiri Anda ke atas ke dalam sudut kostovertebral.

  • Instruksikan klien untuk menarik nafas dalam sehingga bagian bawah ginjal kanan dapat bergerak ke bawah di antara kedua tangan Anda. Jika ginjal bergerak, perhatikan bentuk dan ukuran dari ginjal. Normalnya, ginjal terasa lembut, padat, dan keras, tidak elastis.

  • Tanyakan pada klien apakah palpasi menimbulkan rasa tidak nyaman.

  • Untuk mengkaji ginjal kiri, pindahlah ke sisi kiri klien dan posisikan tangan menekan bagian belakang klien. Letakan tangan kanan anda 5 cm di atas puncak iliaka kiri.

  • Kemudian beri tekanan dengan kedua tangan pada saat klien berinhalasi. Jiga ginjal kiri dapat dipalpasi, bandingkan dengan ginjal kanan; ginjal tersebut harus mempunyai ukuran yang sama.


Palpasi kandung kemih

  • Cari tepi kandung kemih dengan menekan ke dalam garis tengah sekitar 2,5 sampai 5 cm di atas simfisis pubis. Setelah kandung kemih terpalpasi, catat ukuran, lokasinya, serta periksa adanya benjolan, massa, dan nyeri tekan.

  • Kandung kemih normalnya terasa keras dan relatif lembut. (Ingatlah bahwa kandung kemih orang dewasa mungkin tidak dapat dipalpasi). Selama palpasi dalam, klien dapat melaporkan urgensi untuk berkemih, sebuah respon normal.


Keterampilan pengkajian tingkat lanjut : Palpasi ginjal

  • Perawat dapat menggunakan teknik pengkajian tingkat lanjut yang dikenal sebagai menangkap ginjal jika tepi bawah ginjal tidak dapat dipalpasi. Teknik ini hampir sama dengan-tetapi biasanya terbukti lebih berhasil dari pada-palpasi bimanual.

  • Untuk menangkap ginjal kanan, posisikan kedua tangan anda seperti pada palpasi bimanual. Letakkan tangan kiri anda di bawah klien, di bagian tengah antara tepi kostal bawah dan puncak iliaka.

  • Kemudian, tempatkan tangan kanan anda di atas abdomen, langsung di atas tangan kiri anda. Tekuk sedikit tangan kanan ke arah tepi kostal. Kemudian instruksikan klien untuk menarik nafas dalam.

  • Pada puncak inhalasi, tekankan kedua tangan anda bersamaan untuk menabgkap ginjal. Jika ginjal dapat dipalpasi, perhatikan kontur, ukuran, benjolan, massa, dan nyeri tekan.

  • Sekarang, minta klien untuk berekshalasi dengan perlahan pada saat anda melepas tangan anda. Jika ginjal tertangkap, maka ginjal akan menggelincir masuk kembali ke tempatnya.

  • Untuk menangkap ginjal kiri, ulangi teknik ini pada sisi kiri klien.