TAHAP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN KELUARGA YANG SEDANG MENGASUH ANAK

Tahap kedua dimulai dengan kelahiran anak pertama hingga bayi berusia 30 bulan. Biasanya orang tua tergetar hatinya dengan kelahiran anak pertama mereka, tapi agak takut juga. Kekhawatiran terhadap bayi biasanya berkurang setelah beberapa hari, karena ibu dan bayi tersebut mulai saling mengenal. Akan tetapi kegembiraan yang tidak dibuat-buat ini barakhir ketika seorang ibu baru tiba dirumah dengan bayinya setelah tinggal di rumah sakit untuk beberapa waktu. Ibu dan ayah tiba-tiba berselisih dengan semua peran-peran mengasyikkan yang telah dipercayakan kepada mereka. Peran tersebut pada mulanya sulit karena :

1. Perasaan ketidakadekuatan menjadi orang tua baru;

2. Kurangnya bantuan dari keluarga dan teman-teman;

3. Nasihat yang menimbulkan konflik dari keluarga, teman-teman dan para professional perawatan kesehatan yang bersifat membantu;

4. Sering terbangun tengah malam oleh bayi yang berlangsung 3 hingga 4 minggu.

5. Ibu juga letih secara psikologis dan fisiologis. Ia sering merasakan beban tugas sebagai ibu rumah tangga dan barangkali sudah bekerja, selain merawat bayi. Khususnya akan terasa sulit jika ibu menderita sakit atau mengalami persalinan dan pelahiran yang lama dan sulit atau seksio sesar.

Kedatangan bayi dalam rumah tangga menciptakan perubahan-perubahan bagi setiap anggota keluarga dan setiap kumpulan hubungan. Orang asing yang telah masuk ke dalam kelompok ikatan keluarga yang erat, dan tiba-tiba keseimbangan keluarga berubah, setiap anggota keluarga memangku peran yang baru dan memulai hubungan yang baru. Istri sekarang harus berhubungan dengan suami sebagai pasangan hidup dan juga sebagai ayah dan sebalikya.

Oleh sebab itu, meskipun kedudukan sebagai orang tua menggambarkan tujuan yang teramat penting bagi semua pasangan, kebanyakan pasangan menemukannya sebagai perubahan hidup yang sangat sulit. Penyesuaian diri terhadap perkawinan biasanya tidak sesulit penyesuaian terhadap menjadi orang tua. Meskipun bagi kebanyakan orang tua merupakan pengalaman penuh arti dan menyenangkan, kedatangan bayi membutuhkan perubahan peran yang mendadak. Dua factor penting yang menambah kesukaran dalam menerima peran orang tua adalah bahwa kebanyakan orang sekarang tidak disiapkan untuk menjadi orang tua dan banyak sekali mitos berbahaya dan tidak realistis yang meromantiskan pengasuhan anak di dalam masyarakat kami (Fulcomer,1977). Menjadi orang tua merupakan satu-satunya peran utama yang sedikit dipersiapkan dan kesulitan dalam transisi peran mempengaruhihubungan perkawinan dan hubungan orang tua dan bayi secara merugikan.


A. Masa transisi menjadi orangtua

Kelahiran anak pertama merupakan pengalaman keluarga yang sangat penting dan sering merupakan krisis keluarga, sabagaimana yang digambarkan secara konsisten pada penelitian keluarga selama tahap siklus kehidupan keluarga ini (Clark, 1966; Hobs dan Cole, 1976; LeMaster, 1957).

Dalam studi klasik tentang penyesuaian keluarga terhadap kelahiran anak pertama, mewawancarai 46 orangtua dari kalangan kelas menengah di kota (berusia 25-35 tahun) dan memperkirakan sejauh mana mereka dalam keadaan krisis. Ia manamukan bahwa 17 persen pasangan tidak mengalami masalah atau hanya masalah-masalah sedang, tapi sisanya mengalami masalah berat atau luar biasa. Masalah-masalah yang lazim dilaporkan adalah :

1. Suami merasa diabaikan (ini paling sering diributkan oleh suami).

2. Terdapat peningkatan perselisihan dan argumen antara suami dan istri.

3. Interupsi dalam jadwal kontinu (“begitu lelah sepanjang waktu”, merupakan sebuah komentar khas).

4. Kehidupan seksual dan social terganggu dan menurun.

Clark (1966) melakukan sebuah studi tentang keluarga setelah kelahiran seorang bayi yang baru mengatakan kesulitan dalam penyesuaian diri menjadi orang tua dan kebutuhan yang penting setelah kelahiran terhadap kesinambungan pelayanan keperawatan di rumah dan di klinik.

Sebuah studi penting lain menyangkut transisi pasangan menjadi orangtua dilakukan oleh La Rossa (1981). Para peneliti ini mengkonseptualisasikan proses transisi seperti yang dijelaskan dengan baik oleh model konflik, dimana terbatasnya waktu luang, konflik kepentingan diantara orangtua, legitimasi terhadap penentuan masalah-masalah persalinan menyebabkan konflik antara kedua orangtua.

Miller dan Myers-Walls (1983), berdasarkan atas tinjauan studi mereka terhadap orangtua, meringkas stressor mengasuh anak yang spesifik yang diidentifikasi dalam penelitian. Stressor yang paling sering disebutkan adalah sedikitnya kebebasan pribadi karena tanggung jawab mengasuh anak; selain itu, diidentifikasi juga kurangnya waktu dan persahabatan dalam perkawinan. Bahkan lebih banyak tekanan perkawinan dilaporkan pada pasangan yang sulit memiliki anak dengan masalah kesehatan yang serius atau cacat.


B. Tugas-tugas perkembangan keluarga

Setelah lahir anak pertama, keluarga mempunyai beberapa tugas perkembangan yang penting, yaitu :

1. Membentuk keluarga muda sebagai sebuah unit yang mantap (mengintegrasikan bayi baru ke dalam keluarga).

2. Rekonsiliasi tugas-tugas perkembangan yang bertentangan dan kebutuhan anggota keluarga.

3. Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan.

4. Memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan menambahkan peran-peran orangtua, kakek dan nenek.

Hubungan dengan keluarga besar paternal dan maternal perlu disusun kembali pada tahap ini. Peran-peran baru perlu dibuat kembaliberkenaan dengan menjadi kakek-nenek dan hubungan antara orangtua dan kakek-nenek (Bradt, 1988).

Peran yang paling penting bagi perawat keluarga bila bekerja dengan keluarga yang mengasuh anak adalah mengkaji peran sebagai orangtua (bagaimana kedua orangtua beinteraksi dengan bayi baru dan merawatnya, dan bagaimana respon bayi tersebut. Klaus dan kendall (1976), Kendall (1974), Rubbin (1967), dan yang lainnya menguji dampak penting dari sentuhan dan kehangatan awal setelah melahirkan; hubungan positif antara orangtua-anak pada hubungan orangtuadan anak di masa datang. Sikap orangtua tentang mereka sendiri sebagai orangtua, sikap mereka terhadap bayi mereka, karakteristik komunikasi orangtua dan stimulasi bayi.

Perubahan-perubahan peran dan adaptasi terhadap tanggung jawab orangtua yang baru biasanya lebih cepat dipelajari oleh ibu daripada ayah. Anak merupakan realita bagi calon ibu daripada ayah, yang biasanya mulai merasa seperti ayah pada saat kelahiran, tapi kadang-kadang jauh legih lambat dari itu. Ayah seringkali tetap netral pada awalnya sementara wanita secara cepat menyesuaikan diri dengan struktur keluarga yang baru (Minuchin, 1974).

Ibu dan ayah menumbuhkan dan mengembangkan peran orangtua mereka dalam berespon terhadap tuntutan-tuntutan yang berubah terus-menerus dan tugas-tugas perkembangan dari orang muda yang sedang tumbuh, keluarga secara keseluruhan, dan mereka sendiri. Menurut Friedman (1957), orangtua melewati lima tahap perkembangan secara berturut-turut.. dua tahap pertama merupakan fase kehidupan keluarga ini. Pertama, selama masa bayi, orangtua mempelajari arti dari isyarat-isyarat yang diekspresikan oleh bayi untuk mengutarakan kebutuhan-kebutuhannya. Dengan setiap anak lahir berturut-turut, orangtua akan mengalami tahap yang sama ini sehingga mereka menyesuaikan dengan setiap isyarat-isyarat unik bayi.

Tahap kedua dari perkembangan orangtua adalah belajar untuk menerima pertumbuhan dan perkembangan anak yang terjadidalam masa usia bermain (khususnya orangtua yang baru memiliki anak pertama) membutuhkan bimbingan dan dukungan. Orang tua perlu memahami tugas-tugas yang harus dikuasai oleh anak dan kebutuhan anak akan keselamatan, keterbatasan, dan latihan buang air (toilet training). Mereka perlu memahami konsep kesiapan perkembangan, konsep tentang “saat yang tepat untuk mengajar mereka”. Pada saat yang sama pula orangtua perlu bimbingan dalam memahami tugas-tugas yang harus mereka kuasai selama tahap ini.

Pola-pola komunikasi perkawinan yang baru berkembang dengan lahirnya anak, di mana pasangan berhubungan satu sama lain baik sebagai suami-istri maupun sebagai orang tua. Pola transaksi suami-istri terbukti telah berubah secara drastis. Feldman (1961) mengamati bahwa orangtua bayi berbicara dan berkelakar lebih sedikit, pembicaraan yang merangsang lebih sedikit dan kualitas interaksi perkawinan yang menurun. Beberapa orangtua merasa kewalahan dengan bertambahnya tanggung jawab, khususnya mereka yang suami maupun istrinya sama-sama bekerja secara penuh.

Pembentukan kembali pola-pola komunikasi yang memuaskan (termasuk masalah dan perasaan pribadi, perkawinan dan orangtua) adalah sangat penting. Pasangan harus terus memenuhi setiap kebutuhan-kebutuhan psikologis dan seksual dan juga berbagi dan berinteraksi satu sama lain dalam hal tanggung jawab sebagai orangtua.

Hubungan seksual suami istri umumnya menurun selama kehamilan dan selama 6 minggu post partum. Kesulitan-kesulitan seksual selama masa berikutnya umum terjadi, yang timbul dari factor-faktor seperti ibu tenggelam dalam peran barunya, keletihan, dan perasaan menurunnya daya tarik seksual, dan juga perasaan suami bahwa ia “tersingkir” oleh bayinya.

Sekarang komunikasi keluarga termasuk anggota ketiga, membentuk tiga serangkai. Orangtua harus belajar untuk merasakan dan melihat tangisan komunikasi dari bayinya. Misalnya, tangisam bayi perlu dibedakan kedalam ekspresi ketidaknyamanan, rasa lapar, rangsangan yang berlebihan, sakit atau letih. Dan bayi mulai memberikan respon terhadap rangkulan, timangan dan berbicara, yang kemudian diterima dan dikuatkan oleh orangtua.

Konseling keluarga berencana biasanya berlangsung saat pemeriksaan setelah post partum 6 minggu. Orangtua kemudian harus didorong secara terbuka untuk mendiskusikan jarak kelahiran dan perencanaan. Mengingat meningkatnya tuntutan-tuntutan keluarga dan pribadi yang dibawakan oleh bayi, orangtua perlu menyadari bahwa kehamilan dengan jarak yang rapat dan sering dapat berbahaya bagi ibu, dan juga ayah, saudara bayi dan unit keluarga.

Tahap siklus kehidupan ini memerlukan penyesuaian hubungan dalam keluarga besar dan dengan teman-teman. Ketika anggota keluarga lain mencoba mendukung dan membantu orangtua baru ini, ketegangan bisa muncul. Misalnya, meskipun kakek-nenek dapat menjadi sumber pertolongan yang besar bagi orangtua baru, namun kemungkinan konflik tetap ada karena perbedaan nilai-nilai dan harapan-harapan yang ada antar generasi tersebut.

Hubungan perkawinan yang kokoh dan bergairah sangat penting bagi stabilitas dan moral keluarga. Hubungan suami istri yang memuaskan akan memberikan pasangan dengan kekuatan dan “tenaga” bagi bayi dan satu sama lain. Tuntutan-tuntutan dan tekanan-tekanan yang bertentangan, seperti antara loyalitas ibu terhadap bayi dan terhadap suami, merupakan persoalan dan dapat menyiksa. Tipe konflik semacam ini dapat menjadi sumber sentral ketidakbahagiaan selama tahap siklus ini.

DAFTAR PUSTAKA

Friedman, Marilyn M.1998.Keperawatan keluarga: teori dan praktik/Marilyn M.Friedman;alih bahasa, Ina Debora R.L.,Yoakin Asy; editor, yasmin asih, Setiawan, Monica Ester.-ed 3-.-Jakarta:EGC.