Bir dan Uang

Ada riset menarik yang dilakukan di Berkeley. Di asrama mahasiswa setiap gedung setiap lantai selalu ada kulkas yang bisa dipakai oleh semua mahasiswa, kulkas umum.

Periset menaruh 12 kaleng bir di beberapa kulkas. Ternyata dalam waktu 2 hari, hampir semua bir itu hilang habis diambil mahasiswa. Mereka mengambil bir yang bukan miliknya, dan tidak tau milik siapa. Di semua lokasi hampir selalu ludes habis.

Di kulkas yang sama, pada waktu yang berbeda, ditaruh uang kecil2, 1 dan 5 dollar-an, sejumlah 20 sampai 30 USD. Dilipat dijepit bibawah makanan atau barang tapi tetap terlihat, seolah2 milik orang yang ditaruh disana. Dibiarkan dalam 2 hari, ternyata uang itu tidak di”curi” mahasiswa dan tetap ada disana.

Hal ini menarik, karena mengambil satu kaleng bir, nilainya sama dengan 1 atau 2 dollar, tetapi mahasiswa merasa “normal2 saja” mengambil bir, tetapi tidak kalau mengambil uang. Mengambil uang adalah mencuri, mengambil bir adalah berbagi rejeki.

The power of context. Sesuatu yang sama akan “terasa” berbeda bila berada dalam bentuk yang lain.

Ada lagi riset tentang tiket dan uang. Kalau anda punya uang 500.000 rupiah, mau pergi menonton bioskop malam itu, ternyata dijalan uang anda jatuh hilang 50.000 rupiah, sehingga sisa 450.000, apakah anda akan tetap menonton malam itu? 95 persen bilang akan tetap menonton.

Sebaiknya kalau paginya anda telah beli tiket 50.000 rupiah, disaku anda masih ada 450.000 rupiah, dan sorenya tiket itu hilang, apakah tetap akan beli tiket lagi malam itu dan menonton? Nah ternyata 50% lebih orang akan membatalkan dan tidak jadi menonton. Padahal dalam kedua hal itu yang hilang adalah “sama”.

Dalam kehidupan bisnis, mencuri uang perusahaan dan korupsi sangat dianggap “hina”, tetapi datang terlambat kekantor (korupsi waktu), menaikkan laporan beaya perjalanan (mencuri uang), dianggap sangat lumrah dan biasa.

Hal ini juga dipakai untuk menjelaskan kejahatan kerah putih, dimana kalau sekedar merubah data perusahaan, kan tidak se “hina” mencopet atau mencuri atau merampok uang perusahaan?

The power of context. Memahami bahwa sesuatu hal akan menjadi lain kalau dikemas dan ditaruh dalam perspektip yang berbeda. Ini berguna untuk komunikasi dan hubungan bisnis dan kehidupan sosial.

Menghadiahkan sebuah TV Flatscreen 52 inch (hadiah) tidak sama dengan memberi uang (menyogok). Mengajak makan siang, memberi tiket pesawat, mentraktir ke luar negeri untuk rapat simposium, mengunjungi pabrik di Eropa, dan seterusnya, adalah format “pemberian” yang dihaluskan konteks nya.

Memberi hadiah Montblanc special edition ke calon mertua, atau dosen anda, kan bukan "menyogok"?

Saya ingat almarhum nenek dirumah dulu, kalau ada sebuah semangka utuh di kulkas, sering tidak ada yang mau makan, kalau dipotong2 kecil2 dan ditaruh di piring terbuka, ternyata dimakan sedikit sedikit sini sana, habis juga degan cepat.

Dan saya ingat juga kata2 menarik: “ Jumlah orang yang akan datang pada pemakaman anda nanti, sangat tergantung dari…… cuaca hari itu, apakah terang atau hujan. “

Dikutip dari Tanadi Santoso.