Jangan Tutup Tirai Bus Kehidupan Anda

Saya pernah bersama seluruh karyawan SAM Design Surabaya berkunjung ke Wisata Bahari Lamongan (WBL). Kita menyewa bus Damri pergi ke Lamongan. Dari Surabaya ke WBL memang pemandangannya tidak sebagus kalau kita ke Batu atau Pandaan. Tidak ada pemandangan gunung yang indah. Namun pemandangannya tetap menyenangkan. Ada warung yang ramai, ada anak sedang berlari hanya bercelana pendek, ada perahu nelayan yang siap berlayar, ombak memecah batu karang dan lainnya.

Ketika melihat itu saya mencoba mengingatkan teman-teman SAM untuk melihat pemandangan di luar bus. Ada jalan tol, melalui desa, kota kecil, melihat kehidupan sederhana sehari-hari. Tiba-tiba saya teringat sebuah buku berjudul “Are You Ready to Succeed?”

Menurut buku itu, kehidupan kita seperti naik bus. Dan kita lihat di luar itu sebenarnya pemandangannya indah sekali. Dan penuh dengan pelajaran yang bisa kita serap. Tetapi kita sering kali menutup tirai bus semuanya. Sehingga kita tidak bisa melihat apa-apa.

Banyak sekali obyek dalam kehidupan, lewat pemandangan kehidupan, pembelajaran yang banyak, tapi mereka sama sekali tidak mau melihat keluar dan menutup busnya dengan tirai kain yang tebal. Sehingga tidak melihat adanya sinar matahari yang indah. Tertutupnya tirai bis, menghalangi pemandangan kehidupan sehari-hari yang menarik dalam perjalanan.

Demikian juga dengan hidup. Sering kita terpaku rutinitas dan terjerembab di dalamnya. Bangun jam 6, berangkat ke kantor. Tiba jam 8 langsung kerja sampai jam 5 sore atau lebih. Pulang ke rumah, sudah capek langsung tidur. Dan besoknya demikian. Berulang-ulang. Tidak mau menikmati perjalanan hidupnya. Alangkah indahnya kalau kita bisa belajar menikmati hal-hal yang sederhana, yang kita lewati di dalam kehidupan kita.

Kembali ke cerita saya, kita pergi naik bus ke WBL melihat keluar pemandangan sepenuh kenikmatan. Tiba di sana, kita nikmati sepuas-puasnya. Bermain voli pantai, mendayung kano, menjerit sepuasnya di roller coaster dan lainnya. Kita sangat puas dan menikmati. Itu semua sudah kita dapat di Lamongan. Tidak harus ke Jerman, Amerika, Hongkong atau Disneyland. Tidak.

Dalam kehidupan sederhana kita bisa belajar menikmati kehidupan.

Dikutip dari Tanadi Santoso