Narsisme, Egoisme, dan Generasi Baru

Narsisme, Egoisme, dan Generasi Baru.

SF, 1 Juni 2009

Ada hasil riset baru yang agak berbeda, katanya, dalam jaman dimana anak kecil tidak pernah lagi dimarahi, tetapi selalu dipuji, bahkan untuk hal yang paling kecilpun, ternyata melahirkan melahirkan generasi haus pujian. Disekolah, dirumah, dikampus, selalu mengharapkan pujian.

Ketika mereka masuk dunia nyata, dan melihat kehidupan kerja dan masyarakat yang keras, dan mereka tidak lagi dipuji oleh orang sekeliling mereka, maka terasa sebuah ketidak nyamanan yang dalam. Ada kekecewaan dan rasa rendah diri, mereka menganggap dirinya tidak mampu, dan menjadi orang yang gagal dalam hidupnya. Padahal sebenarnya hanya biasa biasa saja, sebuah perjalanan hidup yang umum. Apalagi ketika ditegur dimarahi, langsung saja putus asa.

Pujian yang berlebihan juga membawa narsisme. Narsisme adalah kekaguman akan diri sendiri yang berlebihan, tanpa empati dan perhatian pada orang lain.

Facebook, bersama dengan teknologi lainnya, membuat hal ini menjadi berkembang. Ucapan Selamat Ulang tahun dari 83 orang, yang disebabkan karena teknologi yang memudahkan semua orang tahu tanggal lahir anda, membuat kita mulai merasa jadi orang penting. Seperti juga ada orang lewat depan kita dan tersenyum, kita merasa menjadi selebriti, merasa orang itu menghormati kita.

Teknologi membuat kita makin individualistik, dan narsis. Kita menjauhi orang yang tidak sesuai dengan pandangan kita, dan hanya berkumpul dengan orang yang mau memuji saja. Dijaman dulu, kalau anda tidak suka dengan teman anda, susah menggantinya, karena dia hidup dekat dengan anda, tapi dijaman ini tinggal klik klik klik, selesai.

Kenaikan taraf hidup masyarakat secara umum, juga melahirkan pemanjaan, anak ingin beli apa saja dituruti, terutama dengan sibuknya orang tua, yang menimbulkan rasa bersalah ortu terhadap anak, membuat apapun yang diminta sang anak, disetujui saja. Generasi narsis pun makin menjadi egois, tidak mau perduli kepentingan orang lain. Dunia ini dianggap berputar untuk dirinya sendiri, porosnya ada pada jiwa kerdilnya.

Pembelajaran apa yang bisa kita dapat, apa yang bisa kita lakukan?

1. Mendidik anak: Keseimbangan dalam mendidik anak menjadi penting, teknologi harus dibarengi dengan kearifan dan pembelajaran akan kehidupan.

2. Koreksi diri sendiri: Menyadari hal ini, baik untuk menyadarkan diri kita kembali; kembali ke dunia nyata yang lebih realistik, lebih menginjak bumi.

3. Marketing: Jaman baru penuh dengan egoisme dan narsisme, perlu personafikasi target market, harga bukan hal yang utama, pemuasan ego pelanggan akan menjadi kunci sukses marketing.

Bagaimana pendapat anda?