Representative Bias

Kita selalu memikir bahwa otak kita sangat “adil” dan “bijaksana”. Ternyata banyak kesalahan dalam intuisi kita, baik dalam perhitungan dan anggapan, ataupun dalam memilih dan menetapkan tindakan. “Representative bias” adalah salah satu kekeliruan berpikir yang sering terjadi dalam kehidupan kita.

Mengapa kalau memilih kunci untuk membuka pintu, baru yang terakhir yang benar? Mengapa kalau kita baru mau menjual rumah kita dan memasang banner “Ray White” atau “Era”, tiba2 terasa ternyata disekitar rumah kita banyak juga yang dijual? Mengapa kalau kita baru membeli mobil baru merek tertentu, tiba2 terasa dijalan ternyata banyak sekali mobil dengan model yang sama? Mengapa begitu banyak terjadi pembunuhan akhir2 ini? Pada pelemparan koin, kepala atau ekor, setelah 4 kali kepala, apakah kemungkinan keluar berikutnya?

Pertama, alasannya adalah “Attention” atau “Perhatian”, kalau kita mulai memperhatikan sesuatu maka hal itu akan seolah olah muncul lebih sering dan lebih banyak kali. Waktu anda membeli Mont Blanc ballpoint, anda melihat banyak teman atau pelanggan anda memakai bolpen yang sama karena sekarang anda lebih memperhatikan bolpen orang lain. Hal yang menjadi perhatian kita akan membuat produk itu lebih melekat pada otak kita dan kita ingat selalu.

Kedua adalah, kelemahan otak kita mengingat hal yang sederhana dan umum, selalu hanya mengingat yang “mencuat”, yang “luar biasa”. Seuntai kunci, mungkin sering pula anda memilih yang pertama sudah terbuka, tetapi hal itu anda lupakan, yang sering anda ingat adalah betapa jengkelnya anda mencoba kunci ke 7 baru bisa membuka pintu tersebut. Hal yang khusus akan teringat lebih dalam, setelah waktu yang lama, seolah olah kita jauh lebih sering mengalami hal itu walaupun sebenarnya tidak sering.

Kedua hal diatas mengakibatkan “representative bias”, atau “kekeliruan karena adanya kemiripan kejadian yang teringat, karena adanya angka representasi dari kejadian yang sama atau sejenis”. Orang yang pernah digigit anjing sekali akan selalu takut pada anjing dan menganggap anjing itu berbahaya. Orang yang pernah ditipu oleh orang asing, akan menganggap semua orang asing penipu.

Ketika ditanya mana yang lebih banyak terjadi, orang meninggal akibat “pembunuhan”, atau meninggal akibat “bunuh diri”, orang menganggap lebih banyak pembunuhan karena semua pembunuhan masuk koran, sedangkan bunuh diri tidak. Padahal data menunjukkan bunuh diri lebih banyak dua puluh kali lipat daripada pembunuhan. Ya, dua puluh kali lipat.

Hal yang sering kita temui, atau yang kejadiannya luarbiasa, kita anggap hal itu sering terjadi dalam kehidupan ini, baik terjadi pada kita atau pada orang lain. Kalau kita merokok, maka kita akan merasa kebanyakan orang merokok. Kalau seorang anak lelaki memakai anting2 maka dia akan lebih sering “melihat” orang yang juga memakai anting2.

Hal yang luar biasa kita ingat, dan sering kita salah dalam memprediksi waktu kapan terakhir hal itu terjadi. Kita kira kita telah mem back-up data komputer kita enam bulan lalu, padahal sudah dua tahun tidak kita back-up. Terakhir kita check up kesehatan sudah empat tahun lalu, tapi rasanya baru saja. Ini karena kejadian seperti back-up data, dan check up kesehatan adalah kejadian besar yang selalu teringat.

Pada pelemparan koin, kita tahu berapa kalipun keluar ekor pada sebelumnya, kalau koinnya normal, maka kemungkinan kemudian adalah 50 – 50, tetapi orang cenderung menganggap akan berubah setelah empat kali berturutan keluar ekor. Ini karena kita tahu bahwa kemungkinan nya adalah 50-50 dan bila sudah 4 kali keluar ekor, maka untuk berikutnya sangat lebih mungkin kepala. “Gambler’s Fallacy” adalah salah satu “Representative bias”.

“Representative bias” diketemukan oleh pemenang hadiah Nobel, Amos Tversky dan Daniel Kahneman, dan dijabarkan dalam bukunya Heuristic and Bias.

Dikutip dari Tanadi Santoso