CYSTOMA OVARI

CYSTOMA OVARI

A. PENGERTIAN

Cystoma ovari adalah kantung tertutup yang normal atau abnormal berlapis jaringan epitel dan mengandung cairan atau bahan setengah padat yang terjadi di ovarium.

B. ETIOLOGI

1. Folikel de graff yang tidak berovulasi

2. Korpus luteum persisten yang mengalami perdarahan

3. Pengaruh hormon koriogonadotropin

4. Invaginasi dan isolasi epitel germinativum

5. Perkembangan yang tidak sempurna pada akhir stadium blastomer

C. FAKTOR PREDISPOSISI DAN PENCETUS

1. Infeksi

D. PATOFISIOLOGI

Cystoma ovari berkembang sebagai hasil hiperstimulasi ovari yang disebabkan oleh tingginya kadar LH. Kadar LH lebih tinggi daripada normalnya tetapi tidak memperlihatkan lonjakan. LH yang terus menerus tinggi meningkatkan pembentukan androgen dan estrogen oleh folikel dan kelenjaradrenal. Folikel anovulasi berdegenerasi dan membentuk kista.

Tumor ini dapat bertangkai dan meluas ke dalam rongga panggul atau rongga abdomen. Tumor ini dapat berdegenerasi karena perubahan dalam aliran darah yang menuju tumor akibat pertumbuhan, kehamilan atau atrofi uterus pada menopause. Torsi atau berputarnya tumor bertangkai dapat juga terjadi. Tumor kadang-kadang dapat dipalpasi pada abdomen, tumor ini paling seringterdiagnosis jika teraba massa pada pemeriksaan panggul bimanual. Kebanyakan tumor tidak menimbulkan gejala, sehingga tidak memerlukan penanganan. Tetapi, masalah dapat timbul jika terjadi perdarahan abnormal yang berlebihan sehingga menimbulkan anemia; penekanan pada kandung kemih yang menyebabkan sering berkemih dan urgensi, serta potensial untuk terjadinya sistitis; penekanan pada rektum menyebabkan konstipasi; dan nyeri jika tumor berdegenerasi atau jika terjadi torsi dari tumor bertangkai.

E. TANDA DAN GEJALA

Pertumbuhan tumor ovarium dapat memberikan gejala karena besarnya, terdapat perubahan hormonal atau terjadi penyulit. Tumor jinak ovarium yang diameternya kecil sering ditemukan secara kebetulan dan tidak memberi gejala klinik yang berarti.

Gejala akibat tumor ovarium :

1. Gejala akibat pertumbuhan

a. Menimbulkan rasa berat di abdomen bagian bawah

b. Mengganggu miksi dan defekasi

c. Tekanan tumor dapat menimbulkan obstipasi atau oedema pada tungkai bawah.

d. Pada tumor yang besar dapat terjadi tidak ada nafsu makan, rasa sesak.

2. Gejala akibat perubahan hormonal.

Ovarium merupakan sumber hormon utama wanita, sehingga bila menjadi tumor dapat menimbulkan patrun menstruasi. Tumor sel granulosa dapat menimbulkan hipermenore, sedang tumor arhenoblastoma menimbulkan amenore.

3. Gejala klinik akibat komplikasi.

a. Perdarahan intra tumor (perdarahan didalam kista)

Perdarahan yang terjadi sekonyong-konyong dalam jumlah banyak akan terjadi distensi cepat dari kista, menimbulkan gejala klinik nyeri abdomen mendadak dan memerlukan tindakan cepat.

b. Putaran tangkai.

Tumor bertangakai sering terjadi perputaran tangkai, secara berlahan sehingga tidak banyak menimbulkan nyeri abdomen. Perputaran tangkai yang mendadak menimbulkan nyeri abdomen mendadak dan memerlukan tindakan medis.

c. Terjadi infeksi pada tumor.

Terjadi jika dekat pada tumor terdapat sumber kuman patogen seperti : apendiksitis, divertikulitis, atau salpingitis akut. Kista dermoid cenderung mengalami perdarahan disusul pernanahan.

d. Robekan dinding kista.

Terjadi pada torsi tangkai kista, dapat pula sebagai akibat trauma (jatuh, pukulan pada perut). Jika kiste hanya mengandung cairan serus rasa nyeri akibat robekan dan iritasi peritoneum segera berkurang, tetapi jika disertai perdarahan yang timbul secara akut perdarahan bebas dapat berlangsung terus kedalam rongga peritoneum.

e. Degenerasi ganas kista ovarium.

Keganasan kista ovarium dapat terjadi pada beberapa kista jinak, seperti kistadenomaovarii musinosum, dan kista dermoid.

4. Sindrom Meigs

Sindrom yang ditemukan oleh Meigs menyebutkan terdapat fibroma ovarii, acites, dan hidrotoraks. Dengan tindakan operasi fibroma ovarii, maka sindroma akan hilang dengan sendirinya.

F. KOMPLIKASI

1. Torsi

Komplikasi yang sering terjadi, terutama pada tumor dengan ukuran sedang. Tumor bertangkai sering terjadi putaran tangkai, secara berlahan sehingga tidak banyak menimbulkan nyeri, perputaran tangkai yang mendadak menimbulkan nyeri abdomen mendadak dan segara memerlukan tindakan.

2. Ruptur dari kista

Terjadi pada torsi tangkai kista, dapat pula sebagai akibat trauma. Jika kista hanya mengandung cairan serus rasa nyeri akibat robekan dan iritasi peritoneum segera berkurang, tetapi jika disertai perdarahan yang timbul secara akut perdarahan bebas dapat berlangsung terus kedaslam rongga peritoneum.

3. Suppurasi kista

Peradangan kista dapat terjadi setelah torsi atau dapat pula berdiri sendiri, yaitu secara hematogen atau limfogen. Kista dermoid lebih sering terkena radang.

4. Perubahan keganasan

Biasanya bila terjadi keganasan berupa CA epidermoid, kadang berbentuk sarcoma.

G. PROGNOSIS

Jika selama waktu observasi dilihat peningkatan dalam pertumbuhan tumor tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan besar tumor itu bersifat neoplastik, dan dapat dipertimbangkan satu pengobatan operatif.

Jika terdapat keganasan, operasi yang tepat ialah histerektomi dan salpingo-ooforektomi bilateral. Pada jenis musinosum kemungkinan terjadi keganasan 5-10%. Degenerasi keganasan pada dermoid sekitar 3%, biasanya bila terjadi keganasan berupa CA epidermoid, kadang berbentuk sarcoma.

H. PENATALAKSANAAN MEDIS DAN KEPERAWATAN

Pada prinsipnya tumor ovarium neoplastik perlu operasi sedangkan nonneoplastik tidak.

Tumor ovarium yang tidak memberi gejala atau keluhan pada penderita dan besarnya tidak melebihi jeruk nipis dengan diameter kurang dari 5 cm, kemungkinan besar tumor tersebut adalah kista folikel atau kista corpus luteum (tumor nonneoplastik). Tumor tersebut mengalami pengecilan secara spontan menghilang, pada pemeriksaan ulang setelah beberapa minggu dapat ditemukan ovarium kembali normal. Oleh sebab itu diambil sikap menunggu selama 2-3 bulan sambil dilakukan periksa ginekologi ulang

Tindakan operatif pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas adalah pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang mengandung tumor, tetapi jika tumornya besar atau ada komplikasi perlu dilakukan pengangkatan ovarium. Pada operasi ovarium yang diangkat harus segera dibuka untuk mengetahui adanya keganasan atau tidak. Jika terdapat keganasan, operasi yang tepat adalah histerektomi dan salpingo ooforektomi bilateral.

Peran perawat jika dalam tugas dapat menegakan kemungkinan tumor dibagian bawah abdomen, segera lakukan konsul atau merujuk ke puskesmas atau langsung ke dokter ahli. Perawat bertugas memberi komunikasi, informasi, edukasi, motivasi (KIEM) tentang penyakit yang diderita ibu, pegobatan tumor dengan pengobatan modern dan tindakan operasi, berikan support mental pada ibu dan keluarganya, dengarkan segala keluh kesah dengan penuh rasa empati, anjurkan selalu menjaga kondisi kesehatannya dengan istirahat cukup, makan makanan bergizi, serta menjaga kesehatan diri dan lingkungan.

Penanganan untuk cystoma ovari, yaitu :

  1. Kistik

a. Kista ovari simpleks

Terdiri atas pengangkatan kista dengan serksi ovarium, akan tetapi jaringan yang dikeluarkan harus segera diperiksa secara histologik untuk mengetahui apakah ada keganasan.

b. Kistadenoma ovarii musinosum

Penanganan terdiri atas pengangkatan tumor. Jika ada operasi tumor sudah cukup besar sehingga tidak tampak banyak sisa ovarium yang normal, biasanya dilakukan pengangkatan ovarium beserta tuba (salpingo-ooforektomi). Pada watu pengangkatan kista sedapat-dapatnya diusahakan mengangkatnya tanpa mengadakan pungsi dahulu, untuk mencegah timbulnya pseudomiksoma peritonei karena tercecernya isi kista. Jika berhubung dengan besarnya kista perlu dilakukan pungsi untuk mengecilkan tumor, lubang pungsi harus ditutup dengan rapi sebelum mengeluarkan tumor dari rongga perut. Setelah kista diangkat, harus dilakukan pemeriksaan histologik ditempat-tempat yang mencurigakan terhadap kemungkinan keganasan. Waktu operasi, ovarium yang lain perlu diperiksa pula.

c. Kistadenoma ovarii serosum

Penanganan pada umumnya sama seperti pada kistadenoma musinosum. Hanya, berhubung dengan lebih besarnya kemungkinan keganasan, perlu dilakukan pemeriksaan yang teliti terhadap tumor yang dikeluarkan. Bahkan kadang-kadang perlu diperiksa sediaan yang dibekukan (frozen section) pada saat operasi, untuk menentukan tindakan selanjutnya pada waktu operasi.

d. Kista endometroid

Penanganan pada kista dermoid terdiri atas pengangkatan, biasanya dengan seluruh ovarium.

e. Kista dermoid

Penanganan pada kista dermoid terdiri atas pengangkatan, biasanya dengan seluruh ovarium.

2. Solid

a. Fibroma ovarii.

Penanganan terdiri atas operasi yaitu ooforektomi.

b. Tumor Brenner.

c. Maskulinovoblastom.

Penangannya terdiri atas pengangkatan tumor bersama ovarium.

I. PENGKAJIAN

1. Kaji keluhan utama pasien : biasanya pasien mengeluh terasa berat di perut, nyeri, sering miksi, sembelit.

2. Kaji riwayat atau adanya faktor-faktor penyebab

a. Riwayat tumor pada keluarga

b. Riwayat tumor sebelumnya pada pasien

c. Adanya faktor resiko terkena tumor

3. Pola kesehatan fungsional

a. Nutrisi : mual, muntah, peningkatan berat badan

b. Eliminasi : sering miksi, konstipasi

c. Istirahat (tidur) : nyeri

d. Seksualitas : usia menarche, siklus menstruasi

4. Pemeriksaan fisik

a. Penampilan umum : ...

b. TB :... cm, BB :...kg

c. Kesadaran :

d. Tanda-tanda vital :

e. Kepala/leher :

f. Payudara : bentuk....,massa : ...

g. Abdomen : massa... ,jaringan parut :... ,distensi :... ,peristaltik : ...

h. Genetalia : keputihan :... ,perdarahan :...

i. Ekstremitas : edema/ tidak...,varises

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNCUL

1. Nyeri berhubungan dengan agen cedera (perdarahan)

2. Konstipasi berhubungan dengan tumor

3. Inkontinensia urin stress berhubungan dengan tekanan intra abdomen yang tinggi

4. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan melalui rute abnormal (perdarahan)

5. Cemas berhubungan dengan krisis situasional

K. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

1. Nyeri berhubungan dengan agen cedera (perdarahan)

a. Tujuan dan kriteria hasil

NOC :

- Pain level

- Pain control

- Comfort level

Kriteria Hasil :

- Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik nonfarmakologi untuk megurangi nyeri, mencari bantuan)

- Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan managemen nyeri

- Mampu mengenali nyeri (skala,intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)

- Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

- Tanda vital dalam rentang normal

b. Intervensi dan rasional

NIC :

Pain Management

- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor predisposisi

Rasional :menentukan derajat nyeri yang akan digunakan untuk pemilihan obat yang sesuai

- Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan

Rasional : Untuk mengetahui tingkat nyeri pasien

- Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,pencahayaan dan kebisingan

Rasional : lingkungan yang nyaman dapat mengurangi nyeri pasien

- Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil

Rasional : jika tindakan keperawatan belum bisa untuk mengatasi nyeri maka perlu kolaborasi dengan dokter untuk terapi yang sesuai.

Analgesic Administration

- Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyari sebelum pembeian obat

Rasional : untuk menetukan terapi yang sesuai untuk jenis nyeri pasien

- Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis dan frekuensi

Rasional : untuk mengetahui ketepatan pemberian obat

- Cek riwayat alergi

Rasional : untuk mengetahui apakah ada riwayat alergi

- Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal

Rasional : untuk meminimalkan resiko yang tidak diinginkan dari peberian analgetik

2. Konstipasi berhubungan dengan tumor

a. Tujuan dan kriteria hasil

NOC :

Eliminasi defekasi

Kriteria Hasil :

- Pola eliminai dalam rentang yang diharapkan; feses lembut dnberbentuk

- Mengeluarkan feses tanpa bantuan

- Mengonsumsi cairan dan seratdengan adekuat

- Latihan dalam jumlah yang adekuat

b. Intervensi dan rasional

- Ajarkan etiologi masalah dan rasional tindakan kepada pasien

Rasional : memberikan penyuluha kepada pasien sehingga pasien mengerti penyebab dan tindakan yang dilakukan

- Konsultasikan kepada ahli gizi untuk meningkatkan serat dan cairan dalam diit

Rasional : diit tinggi serat dapat membantu mengurangi konstipasi

3. Inkontinensia urin stress berhubungan dengan tekanan intra abdomen yang tinggi

a. Tujuan dan kriteria hasil

NOC :

- Pengetahuan : pengobatan

- Kontinensia urin

- Eliminasi urin

Kriteria Hasil :

- Menunjukkan pengetahuan yang adekuat tentang pengobatan yang mempengaruhi fungsi urin

- Pola pengeluaran urin yang dapat diperkirakan

- Eliminasi urin tidak akan terganggu ( bau, jumlah, dan warna urin dalam rentang yang diharapkan

b. Intervensi dan rasional

- Pantau eliminasi urine, meliputi frekuensi, konsistensi, bau, volume, dan warna dengan tepat

Rasional : untuk mengetahui adanya tanda-tanda infeksi saluran kemih

- Instruksikan pasien/ keluarga untuk mencatat haluaran urin

Rasional : untuk memonitor output yang digunakan untuk menghitung keseimbangan cairan

- Ajarkan pasien tanda dan gejala infeksi saluran kemih

Rasional : supaya pasien bisa mendeteksi secara dini tanda-tanda infeksi saluran kemih

- Rujuk ke dokter jika terdapat tanda dan gejala infeksi saluran kemih.

Rasional : untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut

4. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan melalui rute abnormal (perdarahan)

a. Tujuan dan kriteria hasil

NOC :

- Fluid balance

- Hydration

- Nutritional status : food and fluid intake

Kriteria Hasil :

- Mempertahankan urine output sesuai dengan usis dan BB, BJ urine normal.

- Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal

- Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan

b. Intervensi dan rasional

- Pertahankan catatan intake dan output yang akurat

Rasional : untuk memonitor cairan masuk dan cairan keluar sehingga diketahui apakah pasien kekurangan cairan

- Monitor status hidrasi (kelembaban membran mukosa, nadi adekuat)

Rasional : untuk mengetahui tanda-tanda kekurangan cairan yang dilihat pada pasien

- Monitor vital sign

Rasional : untuk mengetahui tanda-tanda kekurangan cairan yang dilihat pada pasien

- Berikan cairan IV

Rasional : untuk memberikan cairan tambahan jika masukan secara oral belum mencukupi

- Atur kemungkinan tranfusi

Rasional : diberikan jika Hb pasien rendah

5. Cemas berhubungan dengan krisis situasional

a. Tujuan dan kriteria hasil

NOC :

- Anxiety control

- Coping

- Impulse control

Kriteria Hasil :

- Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas

- Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan teknik untuk mengontrol cemas

- Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan

b. Intervensi dan rasional

Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)

- Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur

Rasional : dengan memberikan penjelasan semua prosedur yang akan kita lakukan maka pasien akan mengerti sehingga tidak takut.

- Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut

Rasional : akan memberikan rasa nyaman dan aman kepada pasien, karena pasien merasa diperhatikan

- Dorong keluarga untuk menemani pasien

Rasional : akan memberikan rasa nyaman dan aman kepada pasien, karena pasien merasa dibutuhkan oleh keluarga

- Identifikasi tingkat kecemasan

Rasional : untuk mengetahui tingkat kecemasan pasien

- Instruksikan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi

Rasional : ajarkan teknik relaksasi kepada pasien untuk mengurangi kecemasan

REFERENSI

Mansjoer, A. 2000, Kapita Selekta Kedokteran edisi 3, Media Aesculapius FKUI, Jakarta.

Manuaba, Ida Bagus Gede. 1998, Ilmu Kebidanan, Ilmu Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan, EGC, Jakarta

NANDA. 2005, Nursing Diagnosis : Definition & Classification 2005-2006, North American Nursing Diagnosis Association, Philadelpia.

Pusdiknakes.1994, Asuhan Kebidanan Pada Ibu Dengan Gangguan Sistem Reproduksi, Jakarta

Sarwono. Ilmu Kandungan, Jakarta, YBPSP, 1997

Wiknjosastro, H. 2007, Ilmu Kandungan Edisi 2 Cetakan 5, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.

Wilkinson, J. 2006, Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Kriteria Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC Edisi VII, EGC, Jakarta.

Wilson & Price, 2005, Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6, EGC, Jakarta.