HIPERTENSI PADA PASIEN HEMODIALISA

HIPERTENSI PADA PASIEN HEMODIALISA

SEJENGKAL, JARAK ANTARA HIPERTENSI DAN GAGAL GINJAL

Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) – merupakan penyebab kedua terbesar gagal ginjal kronik . Hipertensi juga merupaka penyebab umum timbulnya penyakit jantung dan stroke. Hipertensi adalah keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah pada dinding arteri. Predikat hipertensi sebagai penyakit pembunuh diam-diam (the silent killer) ternyata memang demikian adanya.

Hipertensi bisa diderita anak muda sampai orang tua. Bila seseorang tekanan darah sistolik dan diastoliknya lebih di atas batas normal 140/80 mmHg, sudah terkena hipertensi. Meski tekanan darah seseorang masih dibawah definisi normal tersebut tidak secara otomatis terbebas dari kemungkinan terkena hipertensi. Tetapi dianggap berpotensi terkena hipertensi jika ditemukan beberapa faktor risiko mengalami kegemukan atau karena kolesterol. Pada kelompok ini tetap perlu diberikan pengobatan untuk mengatasi hipertensi.

Dampak hipertensi pun tak main-main. Anggaran kesehatan bisa membesar karena hipertensi sangat besar faktornya sebagai pemicu utama stroke, serangan jantung, gagal jantung dan gagal ginjal. Data hingga April 2006 jumlah penderita ginjal di Indonesia mencapai 150. ribu orang sementara yang tetap membutuhkan terapi agar ginjalnya tetap berfungsi sebanyak tiga ribu orang. Menurut Pudji 5-10 persen hipertensi disebabkan karena penyakit lain seperti gangguan ginjal serta gangguan pembuluh darah. Sebelum dunia kedokteran mengalami kemajuan pesat, pengobatan hipertensi menunggu pasien pusing terlebih dahulu karena hipertensi tanpa gejala. Tetapi sekarang bila ditemukan tekanan darah lebih dari normal harus segera mendapat pengobatan. Target tekanan darah diturunkan hingga ke normal 140/80 mmHg. Pengobatan hipertensi bisa menurunkan risiko gagal ginjal. Dalam darah antara lain dialiri asupan-asupan lemak ke sel-sel pembuluh darah. Selanjutnya dinding pembuluh darah yang makin tebal karena lemak tersebut bisa mempersempit pembuluh darah. Jika ini terjadi pada ginjal, tentu akan terjadi kerusakan ginjal yang berakibat kepada penyakit gagal ginjal.

Perumpamaan jarak antara hipertensi dengan gagal ginjal hanya sejengkal, bisa jadi ada kebenarannya. Pasalnya hipertensi pada dasarnya merusak pembuluh darah. Jika pembuluh darahnya ada pada ginjal, tentu ginjalnya yang mengalami kerusakan. Belum lagi salah satu kerja ginjal adalah memproduksi enzim angio tension. Selanjutnya diubah menjadi angio tension II yang menyebabkan pembuluh darah mengkerut atau menjadi keras. Ibaratnya, antara hipertensi dan gagal ginjal seperti lingkaran setan. Hipertensi bisa berakibat gagal ginjal. Sedangkan bila sudah menderita gagal ginjal sudah pasti terkena hipertensi.
Naiknya tekanan darah di atas ambang batas normal bisa merupakan salah satu gejala munculnya penyakit pada ginjal. Beberapa gejala-gejala lainnya seperti berkurangnya jumlah urine atau sulit berkemih, edema (penimbunan cairan) dan meningkatnya frekuensi berkemih terutama pada malam hari.

Pada saat sudah dinyatakan gagal ginjal tahap akhir, maka pasien harus menjalankan hemodialisis (cuci darah) seumur hidupnya. Jalan lain tentu adalah transplantasi ginjal yang membutuhkan dana demikian besar. Bahkan hipertensi pada gilirannya menjadi salah satu faktor risiko meningkatnya kematian pada pasien hemodialisis. Bagaikan siklus ayam dan telur, hipertensi kemudian juga muncul pada penderita gagal ginjal, bahkan merupakan masalah yang paling sering terjadi pada pasien hemodialisis.


Tata Laksana

Pengobatan suatu penyakit pada manusia sudah pasti tak bisa lepas dari penatalaksanaan dan cara pengobatan. Dari berbagai literatur kedokteran jenis obat hipertensi memang ada beberapa macam. Beberapa di antara dari jenis diuretik, beta blocker, antagonis kalsium, ACE inhibitor, Alfa blocker, Angiotensin II antagonis serta Central agonis dan vasodilator.


Hipertensi Pemicu Penyakit Ginjal

Hipertensi merupakan faktor pemicu utama terjadinya penyakit ginjal dan gagal ginjal. Sebaliknya pula, saat fungsi ginjal mengalami gangguan maka tekanan darah pun akan meningkat dan dapat menimbulkan hipertensi.
Selama ini penyakit hipertensi yang sering disebut sebagai the silent killer itu telah dikenal luas oleh masyarakat awam sebagai factor resiko yang sangat berpengaruh bagi terjadinya serangan jantung dan penyakit pembuluh darah lainnya. Namun, sebagian masyarakat belum menyadari bahwa hipertensi juga memiliki keterkaitan yang erat dengan kesehatan ginjal.

Beban kesehatan global akibat hipertensi sangat besar karena merupakan faktor pemicu utama dari stroke, serangan jantung, gagal jantung dan gagal ginjal. Di Indonesia, penderita gagal ginjal hingga April 2006 berjumlah 150.000 orang dan yang membutuhkan terapi fungsi ginjal mencapai tiga ribu orang.
Fungsi utama dari ginjal adalah mengeluarkan sisa-sisa metabolisme dan menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit atau garam tubuh melalui urine atau air seni. Ginjal juga memproduksi hormon yang mempengaruhi fungsi dari organ-organ lainnya, di antaranya hormon yang menstimulasi produksi sel darah merah dan hormon yang membantu menyeimbangkan tekanan darah serta mengontrol metabolisme kalsium.

Dia meneruskan adanya kerusakan pada bagian tertentu, terutama bagian korteks atau lapisan luar, akan merangsang produksi hormon renin yang akan menstimulasi terjadinya peningkatan tekanan darah hingga mengakibatkan terjadinya hipertensi, yang dapat menetap. Di samping itu, saat ginjal rusak maka ekskresi air dan garam akan terganggu dan mengakibatkan isi rongga pembuluh darah meningkat hingga menyebabkan hipertensi. Naiknya tekanan darah di atas ambang batas normal bisa merupakan salah satu gejala munculnya penyakit pada ginjal, selain gejala-gejala lainnya seperti berkurangnya jumlah urine atau sulit berkemih, edema atau penimbunan cairan, dan meningkatnya frekuensi berkemih, terutama di malam hari, urainya.

Gangguan fungsi ginjal akibat hipertensi, lanjutnya, bisa berupa penyakit ginjal akut, penyakit ginjal kronis, hingga gagal ginjal di mana ginjal tidak lagi dapat menjalankan sebagian atau seluruh fungsinya. Bahkan, hipertensi merupakan penyebab kejadian gagal ginjal tahap akhir nomor dua terbanyak setelah diabetes mellitus. Untuk menghindari terjadinya penyakit ginjal pada pasien dengan hipertensi, menurut Pudji, langkah-langkah yang harus dilakukan di antaranya adalah dengan mengukur tekanan darah secara rutin dan mempertahankannya pada batas normal yakni di bawah 120/80. Jika hipertensi berhasil dikontrol, maka resiko terjadinya komplikasi seperti penyakit ginjal kronis akan menurun. Melihat kompleksnya permasalahan yang ditimbulkan penyakit hipertensi, penanggulangan masalah hipertensi baik yang sifatnya pencegahan (preventif) maupun pengobatan (kuratif) harus melibatkan pendekatan menyeluruh agar menunjukkan tingkat keberhasilan yang memuaskan. Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan cara menjalankan gaya hidup sehat dengan cara menjaga berat badan normal, mengurangi konsumsi sodium (garam), banyak berolahraga, menghindari produk tembakau dan alcohol, dan membatasi kafein.
Bagi pasien hipertensi yang disertai kerusakan ginjal, untuk mencapai target tekanan darah ideal 130/80 mmHg maka dibutuhkan pengobatan dengan lebih dari satu macam obat antihipertensi.

Ini membuktikan bahwa kombinasi CCB dengan ACE inhibitor adalah kombinasi yang ideal untuk pasien-pasien hipertensi dengan resiko tinggi, terutama untuk mencegah kerusakan ginjal.

HEMODIALISA
Hemodialisa adalah suatu prosedur dimana darah dikeluarkan dari tubuh penderita dan beredar dalam sebuah mesin diluar tubuh yang disebut dialyzer.
Prosedur ini memerlukan jalan masuk ke aliran darah. Untuk memenuhi kebutuhan ini, maka dibuat suatu hubungan buatan diantara arteri dan vena (fistula arteriovenosa) melalui pembedahan. Pada hemodialisa, darah penderita mengalir melalui suatu selang yang dihubungkan ke fistula arteriovenosa dan dipompa ke dalam dialyzer. Untuk mencegah pembekuan darah selama berada dalam dialyzer maka diberikan heparin.
Di dalam dialyzer, suatu selaput buatan yang memiliki pori-pori memisahkan

darah dari suatu cairan (dialisat) yang memiliki komposisi kimia yang menyerupai cairan tubuh normal. Tekanan di dalam ruang dialisat lebih rendah dibandingkan dengan tekanan di dalam darah, sehingga cairan, limbah metabolik dan zat-zat racun di dalam darah disaring melalui selaput dan masuk ke dalam dialisat. Tetapi sel darah dan protein yang besar tidak dapat menembus pori-pori selaput buatan ini. Darah yang telah dicuci lalu dikembalikan ke dalam tubuh penderita. Dialyzer memiliki ukuran dan tingkat efisiensi yang berbeda-beda.
Mesin yang lebih baru sangat efisien, darah mengalir lebih cepat dan masa dialisa lebih pendek (2-3 jam, sedangkan mesin yang lama memerlukan waktu 3-5 jam).
Sebagian besar penderita gagal ginjal kronis perlu menjalani dialisa sebanyak 3 kali/mingg


Komplikasi Hemodialisa

Komplikasi

Penyebab

Demam

Bakteri atau zat penyebab demam (pirogen) di dalam darah

Dialisat terlalu panas

Reaksi anafilaksis yg berakibat fatal
(anafilaksis)

Alergi terhadap zat di dalam mesin

Tekanan darah rendah

Tekanan darah rendah

Terlalu banyak cairan yg dibuang

Gangguan irama jantung

Kadar kalium & zat lainnya yg abnormal dalam darah

Emboli udara

Udara memasuki darah di dalam mesin

Perdarahan usus, otak, mata atau perut

Penggunaan heparin di dalam mesin untuk mencegah pembekuan