PENGARUH PEMBERIAN TEH ROSELLA TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH (KGD) SEWAKTU PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS (DM) TIPE II

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)

AL-IRSYAD AL-ISLAMIYAH CILACAP

Skripsi, Agustus 2010

LILIS PUSPARANI

PENGARUH PEMBERIAN TEH ROSELLA TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH (KGD) SEWAKTU PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS (DM) TIPE II DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ADIPALA I KABUPATEN CILACAP TAHUN 2010

vii + 72 halaman + 3 bagan + 12 tabel + 5 lampiran

ABSTRAK

Salah satu upaya untuk mengontrol kadar gula darah adalah melakukan diet. Diet ketat karbohidrat tidak disarankan bagi penderita DM, karena karbohidrat merupakan sumber berbagai nutrisi termasuk serat, mineral, dan vitamin yang larut dalam air serta merupakan sumber energi primer untuk otak dan susunan saraf pusat. Serat yang mempunyai efek protektif yang tinggi berada di sayuran dan buah-buahan. Rosella merah adalah salah satu tanaman bunga yang kaya akan serat dan zat gizi lain yang dibutuhkan oleh tubuh. Selain itu, didalam rosella merah juga terkandung antioksidan yang sangat tinggi. Rosella merah saat-saat ini banyak dikonsumsi sebagai terapi Diabetes Mellitus (DM) dengan cara diseduh seperti teh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh the rosella terhadap penurunan kadar gula darah sewaktu pada penderita DM tipe II di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap. Metode penelitian yang digunakan adalah pre experiment dengan rancangan One-Group Pretest-posttest Design. Sampel penelitian sebanyak 28 orang. Analisa data menggunakan Paired Sample T-test. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan yang bermakna secara statistik pada rata-rata Kadar Gula Darah (KGD) Sewaktu penderita DM tipe II antara sebelum dan sesudah diberi teh rosella (ρ = 0,000, t hitung = 5,244). Kesimpulan yang dapat diambil adalah konsumsi teh rosella berpengaruh terhadap penurunan Kadar Gula Darah Sewaktu pada penderita DM tipe II.

Kata Kunci : Teh Rosella, Kadar Gula Darah (KGD) Sewaktu, DM tipe II

Daftar Pustaka : 29 buah (2001-2010)



BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit kronis yang mengancam kehidupan saat ini, bahkan dimungkinkan untuk saat yang akan datang. Disebut mengancam karena sekali terdiagnosa DM, maka seumur hidup akan bergelut dengannya. Meskipun penyakit kronis ini tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikendalikan. Penderita mampu hidup sehat bersama DM, asalkan mau patuh dan kontrol teratur.

Kasus DM dibagi menjai dua tipe utama yaitu DM tipe I dan DM tipe II, dimana 85-90 % dari seluruh kasus merupakan DM tipe II. DM tipe I dikenal sebagai DM yang tergantung pada insulin sebagai pengobatannya dan kebanyakan terjadi pada masa kanak-kanak atau awal menginjak dewasa. Sedangkan DM tipe II dikenal sebagai DM yang tidak tergantung pada insulin sebagai pengobatannya dan kebanyakan terjadi pada usia lanjut (Prawiro, 2009).

Berdasarkan perhitungan World Health Organization (WHO) baru-baru ini menyebutkan bahwa di seluruh dunia kurang lebih 3 juta orang meninggal dikaitkan dengan DM. Di negara berkembang DM merupakan penyebab 4 hingga 5 kali lebih banyak dibandingkan dengan penyakit lainnya. Insidensi DM terus meningkat secara tajam, sampai saat ini tercatat 177 juta penderita DM di seluruh dunia pada tahun 2000. Sedangkan pada tahun 2003 jumlahnya meningkat menjadi 194 juta jiwa atau 5,1 persen dari 3,8 miliar penduduk dunia usia 20-79 tahun menderita DM (Waspadai ancaman diabetes mellitus, 2010).

Menurut hasil survey WHO, Indonesia menduduki ranking ke 4 terbesar di dunia. Masih ada badan atau organisasi lain yang juga melakukan survey tentang jumlah penderita diabetes di suatu Negara yaitu International Diabetes Federation (IDF) yang disponsori oleh World Diabetes (Executive summary, second edition), Indonesia dinyatakan menduduki ranking ke 3 terbesar di dunia. Pada tahun 2003 Indonesia masih menduduki ranking ke 5 di bawah Amerika, tapi pada tahun 2005 Indonesia melejit ke atas menjadi ranking ke 3 dengan penduduk penderita diabetes terbesar, bahkan menggeser rusia yang sebelumnya pada tahun 2003 menduduki ranking ke 3 (Diabetes Indonesia ranking ke 3 di dunia, 2008)

Data yang didapat dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, menyebutkan bahwa proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 45-54 tahun di perkotaan DM menduduki ranking ke-2, yaitu sebesar 14,7 %. Di pedesaan DM menduduki ranking ke-6 dengan jumlah proporsi kematian sebesar 5,8 %. Prevalensi nasional DM berdasarkan pemeriksaan hasil gula dsarah pada penduduk berumur di atas 15 tahun di perkotaan mencapai 5,7 %. Hingga kini, masih tersisa 12 provinsi yang memiliki tingkat prevalensi di atas pevalensi nasional (Susanto, 2009).

Berdasarkan laporan program yang berasal dari rumah sakit dan puskesmas di Jawa Tengah tahun 2006, kasus DM secara keseluruhan sebanyak 259.703 (80,97 per 1000 penduduk). Kasus tersebut dibagi menjadi dua yaitu kasus DM yang tidak tergantung insulin (DM tipe II) yaitu sebesar 72,56 per 1000 penduduk dan kasus DM yang tergantung dengan insulin (DM tipe I) yaitu sebesar 8,41 per 1000 penduduk (BAB IV Pencapaian Program Kesehatan, 2006). Sedangkan di Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap tercatat pada bulan Januari sampai dengan November 2009 terdapat penderita DM yang tidak tergantung insulin (DM tipe II) sebanyak 6940 penderita. Penderita terbanyak ada di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala Kabupaten Cilacap yaitu 248 orang, dengan pembagian 139 orang rawat jalan baru dan 109 orang rawat jalan lama (Sistem Informasi Manajemen Puskesmas, 2009).

Pada penderita DM tipe II perlu diberikan terapi yang tepat, keadaan ini mengharuskan pasien yang terdiagnosa DM tipe II untuk menjaga agar kadar gula darah tetap terkontrol dan menghindarkan komplikasi yang lebih lanjut. Terapi yang dapat digunakan untuk mengontrol kadar gula darah menurut perkeni (2006) ada 4 pilar penatalaksanaan diabetes, yaitu melalui edukasi, perencanaan makan (diet), latihan jasmani, farmakologi (obat-obatan) (Shahab, 2006).

Perencanaan makan (diet) merupakan penatalaksanaan dasar DM tipe II sebelum penggunaan obat hipoglikemik oral maupun suntik insulin. Penatalaksanaan ini lebih baik daripada penggunaan obat-obatan, karena terhindar dari konsumsi bahan-bahan kimia yang terkandung didalam obat. Di dalam diet ini, penderita DM harus benar-benar mengatur pola makan. Penderita DM harus mengkonsumsi makanan yang rendah lemak; cukup karbohidrat; protein; tinggi serat terutama serat larut yang terdapat didalam sayuran dan buah-buahan (> 25 gram serat larut/hari) (Shahab, 2006). Serat larut dan zat-zat lainnya dapat ditemukan pada berbagai macam sayuran dan buah-buahan, seperti kangkung, wortel, terong, kol, bayam, buncis, apel merah, belimbing, pir hijau, jambu biji merah, pepaya, dan sebagainya (Haryati, 2008). Selain sayuran dah buah-buahan yang telah disebutkan, ternyata ada salah satu tanaman yang banyak mengandung serat dan antioksidan. Tanaman yang dimaksud adalah tanaman rosella yang sering tumbuh dihalaman-halaman rumah saat ini. Hanya saja masyarakat belum menyadari tentang berbagai macam manfaat yang terkandung didalamnya (Kustyawati&Ramli, 2008).

Tanaman rosella semakin populer dikalangan masyarakat karena cara penanaman dan pemeliharaannya yang sangat mudah. Meskipun di Indonesia sendiri belum banyak dimanfaatkan, tetapi di Negara lain sudah banyak dimanfaatkan sejak dulu. Seluruh bagian dari tanaman seperti bunga, buah, kelopak dan daunnya dapat dimakan. Tanaman rosella ini juga dimanfaatkan sebagai bahan minuman, sari buah, salad, sirup, puding dan asinan (Maryani,Herti 2005).

Kelopak rosella sering digunakan sebagai bahan minuman yaitu sebagai teh. Teh rosella ini dibuat dengan cara menyeduh 3 kuntum kelopak rosella kering dengan 200 cc (1 gelas belimbing) air panas, kemudian diminum 3 kali sehari (Obat Herbal Tradisional Rosella, 2010). Teh rosella ini disebut juga terapi tanaman obat (terapi herbal). Untuk terapi diabetes, teh rosella ini dikonsumsi selama 7 hari (Snyder 2002). Kelopak rosella kering (teh rosella) yang sudah diseduh mempunyai warna yang menarik dan rasa manis-manis asam yang sangat kuat. Banyak yang belum menyadari bahwa ternyata teh rosella ini mempunyai efek farmakologis yang cukup lengkap untuk kesehatan tubuh (Maisarah, 2008). Kelopak rosella diketahui mampu membantu mengurangi kekentalan darah (menurunkan kadar gula darah) dan melancarkan peredaran darah. Hal ini dilihat dengan adanya kandungan farmakologi didalam kelopak rosella, yaitu asam sitrat, asam malat, vitamin C, antosianin, protein dan flavonoid. Flavonoid yang terdiri dari gossy peptin, anthocyanin dan glucoside hibiscin tersebut berperan sebagai antioksidan yang membantu menetralkan radikal bebas yang menyebabkan kerusakan pada sel beta pankreas yang memproduksi insulin, sehingga meningkatkan kembali sensitifitas kerja insulin (Haryadi, 2010)

Kebenaran tentang manfaat teh rosella untuk menurunkan kadar gula darah ini diketahui dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Arifiyani (2009) dengan judul penelitian pengaruh air rebusan bunga rosella terhadap kadar glukosa darah studi eksperimental pada tikus dengan pembebanan glukosa. Dari penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa terdapat pengaruh antara pemberian air rebusan bunga rosella terhadap penurunan kadar gula darah. Dengan nilai probabilitas pada menit terakhir yaitu menit ke-90 dari uji paired sample test pada kelompok I, II, III adalah > 0,05 dan pada kelompok IV adalah < style=""> Dimana kelompok I merupakan kontrol positif yang hanya diberi aquadest, kelompok II diberi air rebusan bunga rosella sebanyak 25 %, kelompok III diberi air rebusan bunga rosella sebanyak 50 % dan kelompok IV diberi air rebusan bunga rosella sebanyak 100 %. Dalam penelitian ini dinilai yang berpengaruh dalam menurunkan kadar gula darah adalah flavonoid yang terkandung didalam air rebusan rosella (Arifiyani, 2009).

Meskipun baru di uji cobakan pada mencit dan masih banyak orang yang belum menyadari tentang manfaat rosella yang cukup baik untuk kesehatan tubuh, ternyata teh rosella juga sudah dikonsumsi oleh sebagian kecil masyarakat. Contoh kecilnya adalah pada dua orang penderita DM tipe II (Diabetisi) yang sudah sekian lama menderita DM dengan kadar gula darah yang kadang jauh diatas normal. Kedua diabetisi tersebut mengungkapkan sudah bosan dengan obat-obatan kimia dan ingin mencari pengobatan yang lain. Setelah mencari informasi ke berbagai sumber, akhirnya ada teman yang menyarankan untuk mengkonsumsi teh rosella untuk terapi diabetes. Setelah diabetisi I mengkonsumsi teh rosella selama hampir 1 bulan dan diabetisi II mengkonsumsi teh rosella kurang lebih selama 3 bulan, kadar gula darah ke dua diabetisi tersebut kembali stabil. Diabetisi I yang sebelum mengkonsumsi teh rosella mempunyai kadar gula darah 450 mg/dl, setelah hampir satu bulan mengkonsumsi teh rosella kini kadar gula darahnya menjadi 130 mg/dl. Sedangkan diabetisi II yang sebelum mengkonsumsi teh rosella mempunyai kadar gula darah 320 mg/dl, setelah hampir tiga bulan mengkonsumsi teh rosella kini kadar gula darahnya menjadi 101 mg/dl (Fakta tentang rosella, 2009).

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang bagaimana pengaruh pemberian teh rosella terhadap penurunan Kadar Gula Darah (KGD) Sewaktu pada penderita Diabetes Mellitus (DM) tipe II.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut: “Adakah pengaruh antara pemberian teh rosella dengan penurunan Kadar Gula Darah (KGD) Sewaktu pada penderita Diabetes Mellitus (DM) tipe II di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap Tahun 2010?”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh pemberian teh rosella terhadap penurunan Kadar Gula Darah (KGD) Sewaktu pada penderita Diabetes Mellitus (DM) tipe II di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap Tahun 2010.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui KGD Sewaktu pada penderita DM tipe II sebelum diberi teh rosella di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap Tahun 2010.

b. Mengetahui KGD Sewaktu pada penderita DM tipe II sesudah diberi teh rosella di Wilayah kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap tahun 2010.

c. Mengetahui perbedaan KGD Sewaktu pada penderita DM tipe II antara sebelum dan sesudah diberi teh rosella di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala Kabupaten Cilacap tahun 2010.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

a. Sebagai sumber bacaan dalam keperawatan penyakit dalam dan kegiatan proses belajar mengajar khususnya keperawatan pada penderita DM tipe II.

b. Hasil penelitian dapat menjadi referensi ilmiah bagi peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian sejenis.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi peneliti

Penelitian ini dapat memberikan wawasan tentang bagaimana efek pemberian teh rosella terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita DM Tipe II.

b. Bagi penderita

Hasil penelitian dapat menjadi bahan pertimbangan untuk memilih metode yang tepat dan praktis dalam menurunkan kadar gula darah yang salah satunya dengan mengkonsumsi teh rosella.

c. Bagi Tenaga Kesehatan di Wilayah kerja Puskesmas Adipala

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan salah satu masukan teknik mengontrol kadar gula darah pada penderita DM dan dapat diterapkan pada masyarakat.

E. Keaslian Penelitian

Sepanjang pengetahuan peneliti, penelitian tentang pemberian teh rosella yang berkaitan dengan penurunan kadar gula darah masih jarang dilakukan. Beberapa penelitian terkait yang pernah dilakukan antara lain:

1. Arifiyani (2009) meneliti tentang pengaruh air rebusan bunga rosella terhadap kadar glukosa darah studi eksperimental pada tikus dengan pembebanan glukosa. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan rancangan pre test dan post test controlled group design. Uji statistik yang digunakan adalah paired sample test, dengan nilai probabilitas pada menit ke 90 pada kelompok I, II, III adalah >0,05, dan pada kelompok IV adalah <>

2. Rohaendi (2008) meneliti tentang Pengaruh Pemberian Teh Rosella dan Obat terhadap Tekanan Darah Pasien Hipertensi Primer di Panti Jompo Welas Asih Kota Tasikmalaya dan Rumah Sakit Umum Kota Tasikmalaya. penelitian ini menggunakan metode experiment dengan control Group Pretest-postest, Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan efektifitas teh rosella dan obat terhadap tekanan darah pasien hipertensi di Panti Jompo Welas Asih Kota Tasikmalaya dan Rumah Sakit Umum Daerah Kota Tasikmalaya. Sampel penelitian ini berjumlah 40 orang responden, terdiri dari 20 responden yang diberikan teh rosella dan 20 orang responden yang minum obat actrapin 5 mg sehari sekali selama tujuh hari. Pengambilan sampel dengan cara total sampling untuk responden di Panti dan conventiente sampling untuk pasien rumah sakit. Pengujian efektifitas sebelum dan sesudah dilakukan intervensi dengan uji paired-Sample T test, sedangkan untuk menguji adanya perbedaan efektifitas diantara dua kelompok menggunakan uji independent Sample T test dan untuk menguji efektifitas pemberian intervensi setelah dikontrol oleh jenis kelamin, umur, dan Indek Massa Tubuh (IMT) menggunakan uji Anova. Hasil penelitian menunjukkan jenis kelamin paling banyak perempuan, rata-rata umur responden 60 tahun dan rata-rata IMT 27,25. Hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan tekanan sistolik dan diastolik sebelum dan sesudah intervensi pada kedua kelompok (p=0,000). Teh rosella dan obat sama efektifnya dalam menurunkan tekanan darah pada kedua kelompok (p= 0,057 dan 0,242). Jenis kelamin, umur, dan IMT tidak mempengaruhi penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa secara signifikan teh rosella dan obat dapat menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada pasien hipertensi. Rekomendasi dari penelitian ini adalah perlu adanya penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang sebih besar, uji kandungan rosella, dan pengukuran secara serial.

Perbedaan yang ada pada penelitian ini dengan penelitian sebelumnya diantaranya pada obyek penelitian yaitu pada kasus DM tipe II di Wilayah Kerja Adipala I Kabupaten Cilacap, subyek penelitian yaitu penderita DM tipe II di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap. Penelitian ini menggunakan metode pre quasi eksperimen dengan rancangan pretes-postes dalam satu kelompok (One-Group Pretest-posttest Design) dan tempat penelitian di Wilayah Kerja puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap.




BAB II

TINJAUAN TEORI DAN KERANGKA TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Diabetes Mellitus (DM)

a. Pengertian

Menurut WHO (2009), Diabetes adalah penyakit kronis, yang terjadi ketika pankreas tidak cukup memproduksi insulin, atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin yang dihasilkan oleh pankreas. Hal ini menyebabkan peningkatan konsentrasi glukosa dalam darah (Diabetes, 2010).

Diabetes Mellitus (DM) adalah suatu penyakit dimana kadar glukosa (gula sederhana) di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara adekuat (Nabyl, 2009, h.12).

b. Klasifikasi

Klasifikasi DM yang dianjurkan oleh PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia ) 2006 adalah yang sesuai dengan anjuran klasifikasi DM menurut American Diabetes Association (ADA) 1997, sebagai berikut :

1) Diabetes Melitus tipe 1 (DM tipe I)

DM tipe I merupakan diabetes dengan kerusakan pankreas secara keseluruhan, sehingga pankreas tidak mampu untuk menghasilkan insulin sama sekali. DM tipe I biasanya mengenai anak-anak, sehingga pernah dikenal dengan juvenile diabetes (diabetes usia muda). Namun ternyata DM tipe I juga dapat terjadi pada orang dewasa, sehingga lebih dikenal dengan DM tipe I, atau sebelumnya juga pernah dikenal dengan istilah Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM). Jumlah kejadian DM tipe I hanya 1-10 % dari semua diabetes. Di Indonesia, hanya kurang lebih sekitar 1% dari semua diabetes (Kariadi 2009, h.42).

2) Diabetes Melitus tipe II (DM tipe II)

Dari seluruh penderita diabetes, jumlah penderita DM tipe II adalah yang paling banyak, yaitu 90-99 %. DM tipe II disebut juga diabetes life style, karena selain faktor keturunan sebagai penyebab DM tipe II, ternyata gaya hidup yang tidak sehat juga merupakan faktor utama. Sebelumnya, DM tipe ini disebut adult onset atau maturityonset diabetes. Namun ternyata DM tipe ini juga dapat mengenai orang yang usianya lenih muda, sehingga lebih cocok disebut DM tipe II (Kariadi 2009, h.43).

DM tipe II berkembang sangat lambat, bisa sampai bertahun-tahun dan gejalanya pun sering tidak jelas. DM tipe II tidak mutlak memerlukan suntikan insulin karena pankreasnya masih menghasilkan insulin, hanya saja kerja insulin sudah tidak efektif karena terjadi resistensi insulin. Resistensi insulin yang terlalu lama akan menyebabkan terjadinya penurunan sekresi insulin (defisiensi insulin). Karena, selama reisitensi insulin belum diperbaiki, pankreas harus bekerja keras untuk menghasilkan insulin sebanyak-banyaknya untuk dapat menggempur resistensi tersebut agar gula bisa diserap oleh tubuh (Kariadi, 2009, h.44). Jika tidak ditangani dengan baik, pada perkembangan penyakit selanjutnya penderita DM tipe II akan mengalami kerusakan sel-sel beta pankreas yang terjadi secara progresif, yang sering kali akan mengakibatkan defisiensi insulin, yang akhirnya akan menyebabkan penderita DM tipe II memerlukan insulin eksogen (Nabyl, 2009, h.25).

3) Diabetes Melitus tipe lain

Yang dimaksud dengan diabetes tipe lain adalah yang tidak termasuk dalam DM tipe I dan DM tipe II, melainkan yang disebabkan oleh kelainan tertentu (Kariadi, 2009, h.46), misalnya:

a) Defek genetik fungsi sel beta :

(1) Maturity Onset Diabetes of the Young (MODY) 1,2,3.

(2) DNA mitokondria

b) Defek genetik kerja insulin

c) Penyakit endokrin pankreas :

(1) Pankreatitis

(2) Tumor pankreas /pankreatektomi

(3) Pankreatopati fibrokalkulus

d) Endokrinopati :

(1) Akromegali

(2) Sindrom Cushing

(3) Feokromositoma

(4) Hipertiroidisme

e) Karena obat/zat kimia :

(1) Vacor, pentamidin, asam nikotinat

(2) Glukokortikoid, hormon tiroid

(3) Tiazid, dilantin, interferon alfa dan lain-lain

f) Infeksi : Rubella kongenital, Cytomegalovirus (CMV)

g) Sebab imunologi yang jarang : antibodi anti insulin

h) Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM : sindrom Down, sindrom Kleinfelter, sindrom Turner, dan lain-lain.

4) Diabetes Melitus Gestasional (DMG)

Diabetes Mellitus Gestasional (DMG) adalah diabetes yang muncul hanya pada saat masa kehamilan. Biasanya diabetes ini muncul pada minggu ke-24, namun tidak menutup kemungkinan juga diabetes tipe ini muncul pada awal kehamilan (Kariadi, 2009, h.45).

Penyebab diabetes gestasional dianggap berkaitan dengan peningkatan kebutuhan energi dan kadar estrogen dan hormon pertumbuhan yang terus menerus tinggi selama kehamilan. Hormon pertumbuhan dan estrogen merangsang pengeluaran insulin dan dapat menyebabkan penurunan responsivitas sel. Hormon pertumbuhan memiliki beberapa efek anti-insulin, misalnya perangsangan glikogenolisis (penguraian glikogen) dan penguraian jaringan lemak. Semua faktor ini mungkin berperan menimbulkan hiperglikemia pada diabetes gestasional (Corwin, 2001:542-546).

c. Gejala Klasik Diabetes

Gejala klasik diabetes menurut Kariadi (2009, h.36) antara lain :

1) Poliuri (peningkatan produksi urine)

Jika kadar gula darah melebihi nilai ambang ginjal (> 180 mg/dl), gula akan keluar bersama dengan urine. Untuk menjaga agar urine yang keluar (yang mengandung gula tadi) tidak terlalu pekat, maka tubuh akan menarik air sebanyak mungkin ke dalam urine sehingga volume urine yang keluar banyak dan sering buang air kecil.

2) Polidipsi (sering kali merasa haus dan ingin minum sebanyak-banyaknya)

Dengan banyaknya urine yang keluar, tubuh akan kekurangan cairan (dehidrasi). Untuk mengatasi hal tersebut, maka muncullah rasa haus, sehingga diabetisi selalu ingin minum yang banyak, dingin, manis dan segar. Hal inilah yang merugikan karena membuat kadar gula darah semakin tinggi.

3) Polifagia (peningkatan nafsu makan) dan kurang tenaga

Karena insulin yang bertugas untuk memasukkan gula dan zat yang lain ke dalam sel bermasalah, maka energi yang dibentuk pun kurang. Inilah yang menyebabkan diabetisi merasa kurang tenaga., dan otak berfikir bahwa kurang energi berarti kurang makan, dan tubuh berusaha meningkatkan asupan makanan dengan menimbulkan rasa lapar sehingga timbul perasaan selalu ingin makan dan ingin ngemil terus.

4) Penurunan berat badan dan menjadi kurus

Ketika tubuh tidak bisa mendapatkan energi yang cukup dari gula karena insulin, maka tubuh akan segera mengolah zat-zat lain di dalam tubuh untuk diubah menjadi energi. Zat-zat yang diubah tersebut adalah lemak dan protein. Apabila hal tersebut berlangsung cukup lama, maka tubuh akan tampak kurus dan berat badannya turun.

d. Kriteria DM Tipe II

Kriteria diagnostik DM tipe II menurut Perkeni (2006) dalam Shahab 2006 :

1) Gejala dan tanda klinis klasik diabetes ditambah dengan kadar glukosa sewaktu > 200 mg/dL. Dimana sewaktu didefinisikan sebagai kapan saja dalam satu hari tanpa mempedulikan waktu sejak terakhir kali, sedangkan gejala dan tanda klinis klasik diabetes 3P berupa poliuria (banyak buang air kecil), polidipsia (banyak minum), polifagia (banyak makan) serta penurunan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.

2) Kadar glukosa darah puasa >126 mg/dL (>7mmol/L), dimana puasa didefinisikan sebagai tidak ada asupan kalori selama kurang lebih 8 jam.

3) Kadar glukosa darah 2 jam setelah makan >200 mg/dL (>11,1 mmol/L (LeMone & Burke, 2008).

Target pengendalian glukosa darah untuk penderita DM menurut Perkeni (2006) dalam Shahab 2006 adalah:

1) HbA1c: baik <6,5%,>8%

2) Glukosa darah puasa (mg/dL): baik 80-100, sedang 100-125, buruk >126

3) Glukosa darah 2 jam setelah makan (mg/dL): baik 80-144, sedang 145-179, buruk >180

Untuk diabetisi berusia >60 tahun, sasaran kendali glukosa darah dapat lebih tinggi dari biasa yaitu puasa 100-125 mg/dL dan sesudah makan 145-180 mg/dL. Cara pengobatan perlu dievaluasi kembali apabila kadar HbA1c >8%) (Prawiro, 2009).

e. Pengelolaan DM Tipe II

Tujuan utama pengelolaan diabetes menurut Perkeni 2006 adalah :

1) Jangka pendek : menghilangkan keluhan/gejala DM dan mempertahankan rasa nyaman dan sehat.

2) Jangka panjang : mencegah penyulit, baik makroangiopati maupun neuropati, dengan tujuan akhir menurunkan morbiditas dan mortalitas DM.

3) Cara : menormalkan kadar glukosa, lipid, insulin. Mengingat mekanisme dasar kelainan DM tipe-2 adalah terdapatnya faktor genetik, tekanan darah, resistensi insulin dan insufisiensi sel beta pankreas, maka cara-cara untuk memperbaiki kelainan dasar yang dapat dikoreksi harus tercermin pada langkah pengelolaan.

4) Kegiatan : mengelola pasien secara holistik, mengajarkan perawatan mandiri dan melakukan promosi perubahan perilaku (Shahab, 2006).

Menurut Perkeni (2006) dalam Shahab 2006, ada 4 pilar pengelolaan DM tipe II :

1) Edukasi (penyuluhan)

Edukasi merupakan bagian integral asuhan perawatan DM. edukasi adalah pendidikan dan latihan mengenai pengetahuan dan ketrampilan pada pengelolaan DM yang diberikan kepada setiap penderita DM. Selain kepada penderita DM, edukasi juga diberikan kepada anggota keluarganya, kelompok masyarakat yang beresiko tinggi dan pihak perencana kebijakan kesehatan (Shahab, 2006). Melalui edukasi, penderita diabetes (diabetisi) bisa mengetahui dan mengerti tentang apa itu diabetes, masalah apa yang harus dihadapi, mengapa penyakit ini perlu dikendalikan secepatnya, dan seterusnya. Apabila penderita mempunyai pengetahuan yang cukup tentang DM, selanjutnya diharapkan mengubah perilaku (life style) yang kemudian dapat mengendalikan kondisi penyakitnya (Soegondo, 2008). Dalam edukasi ini ditekankan bahwa hal yang terpenting dalam pengendalian diabetes adalah perubahan pola makan dan aktifitas fisik (olah raga), inilah yang disebut dengan perubahan gaya hidup (life style) (Kariadi, 2009, h.77).

2) Perencanaan makan (diet)

Pengaturan pola makan merupakan pilar terpenting bagi pengobatan diabetes, istilah yang lebih dikenal adalah diet. Baik diabetisi tipe I dan diabetisi tipe II tetap memerlukan semua bentuk zat gizi yang diperlukan untuk hidup sehat. Pengaturan makan yang dimaksud adalah merancang sedemikian rupa makanan yang jumlahnya sesuai dengan kebutuhan sehingga insulin yang tersedia mencukupi dan zat gizi yang terkandung didalamnya sehat dan seimbang (Kariadi, 2009, h.78).

Terapi diet sangat penting pada pengendalian DM. Dalam penatalaksanaan penyakit DM, diet yang tepat merupakan langkah pertama sebelum pemberian obat-obatan, suntik insulin, maupun yang tanpa obat dan insulin (Soegondo, 2008).

Adapun komponen gizi pada diet DM menurut Perkeni (2006) yaitu :

a) Karbohidrat (60 – 70 %)

Karbohidrat yang diperbolehkan adalah yang mengandung serat seperti yang terdapat didalam buah-buahan dan sayuran, karena karbohidrat yang berasal dari bahan makanan ini tidak mudah diserap dan tidak mudah menaikkan kadar gula darah sesudah makan.

b) Protein (10 – 15 %)

Berkurangnya aktivitas insulin pada DM menghambat sentesis protein. Asupan protein sebesar 0,8 gr/kg BB dapat mempertahankan proteogenesis, dengan catatan 50 % dari padanya harus berasal dari protein hewani.

c) Lemak ( 20 – 25 %)

Bukti klinis epidemiologis dan percobaan kepada binatang telah memastikan bahwa peningkatan kadar lemak merupakan faktor resiko arteriosklerosis. Lemak yang sebaiknya diberikan adalah lemak tak jenuh untuk mencegah arteriosklerosis. Lemak yang berlebihan dalam makanan akan menyebabkan kolesterolemia dan lipidemia yang merupakan fakto resiko amat penting dalam terjadinya komplikasi pembuluh darah koroner dan infark koroner jantung serta kemungkinan kematian mendadak.

d) Serat ( 25 gr per hari)

Diet tinggi serat selain dapat menekan kenaikan kadar gula darah sesudah makan. Efek fisiologis dari serat terjadi antara lain karena sifat yang dimiliki oleh masing-masing serat terebut, yaitu:

(1) Viskositas

Serat makanan larut berupa gum (dihasilkan dari salah satu jenis tanaman) dan pektin (bagian dari jaringan tanaman yang banyak terdapat pada kulit buah atau sayuran) dapat menaikan viskositas (kekentalan) isi usus. Hal ini dapat menunda pengosongan perut, memperpanjang waktu transit (dari mulut sampai usus), dan mengurangi kecepatan absorbsi di dalam usus halus. Kelambatan absorbsi disebabkan leh kenaikan ketebalan lapisan air di permukaan usus halus, juga karena ada perintangan gerakan zat gizi di dalam jonjot-jonjot usus. Sebaliknya, serat tak larut (misalnya bekatul gandum) tidak memiliki sifat tersebut. Serat ini mempercepat pengosongan usus dan waktu transit sepanjang usus. Serat tak larut menaikkan jumlah feses (tinja), sebab tahan terhadap degradasi bakteri (Retnaningsih, 2008).

(2) Kapasitas pengikatan air

Di dalam usus besar (kolon), selulosa, hemiselulosa dan lignin yang merupakan serat tidak larut menyerap air. Sehingga volume feses (tinja) menjadi lebih besar. Serat tak larut juga mempersingkat waktu antara masuknya makanan dan dikeluarkan sebagai tinja. Hasilnya, kontak antara zat-zat iritatif dan mukosa kolorektal (usus besar) menjadi singkat. Ini bisa mencegah timbulnya penyakit-penyakit kolon dan rektum. Hal ini sekaligus dapat menerangkan kegunaan serat makanan dalam mencegah timbulnya karsinoma atau kanker (Retnaningsih, 2008).

(3) Fermentabilitas

Serat larut seperti pektin, gum, dan B-glukan yang tergabung dalam senyawa karbohidrat hampir secara sempurna dapat terfermentasi dan tidak punya efek melancarkan buang air besar (laxative). Hasil penelitian memperlihatkan diet tinggi serat larut ini bisa menurunkan kadar kolesterol darah dan memperbaiki metabolisme karbohidrat, sehingga baik untuk penderita DM (Retnaningsih, 2008).

e) Pemanis gula dihindari dan diganti menggunakan pemanis alternatif asal tidak melebihi batas aman konsumsi harian. Pemanis dibagi menjadi dua yaitu pemanis bergizi dan pemanis tidak bergizi. Yang termasuk pemanis bergizi adalah gula alkohol dan fruktosa, gula alkohol antara lain isomalt, lactitol, maltitol, mannitol dan xylitol. Sedangkan yang termasuk pemanis tidak bergizi adalah aspartame, sakarin, acesulfame potassium, sukralose dan neotame. Dalam penggunaanyya, pemanis bergizi perlu diperhitungkan kandungan kalorinya sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari. Fruktosa tidak dianjurkan digunakan pada penyandang DM karena efek samping pada lemak darah, yang termasuk pemanis.

4) Latihan Jasmani/Olahraga

Dengan melakukan kegiatan olahraga secara teratur dan berkesinambungan diharapkan kadar gula darah penderita DM tipe II tetap stabil di angka normal. Selain dapat menormalkan kadar gula darah, olahraga secara teratur juga dapat memberikan beberapa keuntungan, antara lain : mendapatkan kesegaran tubuh, membuang kelebihan kalori sehingga mencegah kegemukan, gula darah lebih terkontrol, mengurangi kebutuhan obat dan insulin, mencegah terjadinya DM tipe II dini bagi orang-orang yang termasuk golongan resiko tinggi, menurunkan tekanan darah tinggi dan mengurangi resistensi insulin pada orang yang obesitas (Soegondo, 2009).

5) Obat-obatan (Terapi Farmakologik)

Apabila penatalaksanaan terapi tanpa obat (pengaturan diet dan olah raga) belum berhasil mengendalikan kadar glukosa darah penderita , maka perlu dilakukan langkah berikutnya berupa penatalaksanaan terapi farmakologik. Menurut Kariadi (2009) terapi farmakologik pada DM tipe II dibagi menjadi 2, yaitu:

a) Obat-obat yang diminum (oral), yaitu tablet atau pil yang disebut obat hipoglikemik oral (OHO)

Obat untuk memperbaiki jumlah insulin yang kurang adalah yang membantu merangsang pankreas untuk meningkatkan produksi insulin. Obatnya adalah golongan Sulfoniluria dan golongan Glinid. Untuk memperbaiki hambatan terhadap kerja insulin atau resistensi insulin pada sel-sel, obatnya adalah yang mengurangi resistensi insulin tersebut, yaitu golongan Biguanid (metformin) dan Tiazolidindion (TZD).

Selain mempunyai sel beta (sel-β) yang menghasilkan insulin, pankreas juga memiliki sel alfa (sel-a) yang menghasilkan glukagon. Glukagon kerjanya berlawanan dengan insulin, jadi glukagon ini tidak membantu menurunkan kadar gula darah, melainkan meningkatkan. Pada keadaan normal, keduanya berada di dalam keseimbangan. Namun, pada DM tipe II, selain sel-β yang sakit, ternyata se-a jadi overacting dan menghasilkan glukagon berlebih. Obat yang diberikan untuk merangsang insulin dan menekan glukagon adalah golongan inhibitor DPP-IV. Pengobatan dengan OHO hanya berlaku untuk DM tipe II.

b) Obat untuk disuntikkan, yaitu insulin.

Untuk DM tipe II, insulin biasanya diberikan dalam berbagai kondisi:

(1) Apabila bermacam jenis OHO sudah digunakan sampai dosis maksimum, tetapi kadar gula darah tetap tidak terkendali, obat diganti insulin.

(2) Insulin diberikan sebagai obat pertama pada diabetisi yang pada waktu datang berobat berat badannya sudah turun drastis dalam waktu singkat dengan kadar gula darah yang tinggi.

(3) Insulin biasanya juga diberikan apabila seorang diabetisi menderita infeksi hebat atau menjalani operasi besar.

(4) Pada komplikasi, seperti gagal ginjal, gagal hati dan gagal jantung yang berat, OHO biasanya harus segera dihentikan dan langsung diganti dengan insulin.

f. Kadar Gula Darah (KGD)

1) Pemantauan kadar gula darah

Dalam Nabyl (2009, h.84), pemantauan status metabolik penyandang DM merupakan hal yang sangat penting. Hasil pemantauan tersebut digunakan untuk menilai manfaat pengobatan dan sebagai pedoman penyesuaian diet, latihan jasmani, dan obat-obatan untuk mencapai kadar gula (glukosa) darah senormal mungkin, serta terhindar dari berbagai komplikasi. Status metabolik dapat dinilai dari beberapa parameter, seperti :

a) Perasaan sehat secara subjektif

b) Perubahan berat badan

c) Kadar glukosa darah dan HbA1C/A1c

d) Kadar glukosa urine dan keton urine

e) Kadar lemak (lipid) darah

Pemeriksaan glukosa darah secara berkala memang penting untuk dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan sasaran terapi diabetes dan melakukan penyesuaian dosis obat, bila sasaran belum tercapai. Namun pemeriksaan glukosa urine hanya dapat mendeteksi kadar glukosa darah yang tinggi (hiperglikemia), tetapi tidak dapat membedakan glukosa darah normal dan rendah (hipoglikemia). Hasil pemeriksaan sangat tergantung pada fungsi ginjal dan tidak dapat digunakan untuk menilai keberhasilan terapi (Nabyl, 2009, h.78). Kadar glukosa normal dalam darah :

a) Kadar glukosa sewaktu (acak) : 110 – 200 mg/dl

b) Kadar glukosa darah saat puasa : 110 – 126 mg/dl

c) Kadar glukosa dua jam setelah makan (75 gram glukosa) : 140 – 200 mg/dl.

Derajat sasaran tata laksana penderita DM menyangkut pengendalian kadar gula darah, perbaikan gangguan metabolisme dan mengurangi faktor resiko komplikasi menahun. Tabel derajat sasaran pengendalian DM tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1

Derajat Sasaran Pengendalian DM

Jenis pemeriksaan

Baik

Sedang

Buruk

Gula darah puasa (mg/dl)

Gula darah 2 jam (mg/dl)

HbA1c/A1C (%)

Kolesterol total

Kolesterol LDL (mg/dl)

Kolesterol HDL

Trigliserida (mg/dl)

IMT (kg/m2)

Tekanan darah (mmHg)

80 – 109

80 ≤ 144

<>

<>

<>

> 45

> 150

18,5 – 22,9

<>

110 - 125

145 - 179

6,5 - 8

200 - 239

100 – 129

150 – 199

23 – 25

130 – 140/80 - 90

>126

³180

>8

>240

>130

³ 200

>25

> 140/90

Sumber : Kariadi, 2009, h.102.

2) Pemantauan gula darah mandiri (PGDM)

Pemantauan kadar gula darah penderita diabetes (diabetisi) secara teratur merupakan bagian yang penting dari pengendalian diabetes. Pemeriksaan kadar glukosa darah dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik di laboratorium, klinik, bahkan dapat dilakukan PGDM yang dapat dilakukan dirumah dengan menggunakan alat yang dikenal dengan glukometer (Nabyl, 2009, h.84). Caranya adalah dengan menusuk jari dan mengambil sedikit darahnya. Darah yang muncul kemudian akan diserap oleh secarik strip yang telah dirancang khusus. Dan hasilnya dapat diperoleh dalam waktu sekitar 5 detik. Pemeriksaan PDGM dapat dilakukan kapan saja, sebelum makan, sesudah makan, sewaktu puasa atau ketika diabetisi memang memerlukan pemeriksaan khusus (Kariadi, 2009, h.107).

Table 2.2

Perbedaan Pemeriksaan Laboratorium dan PDGM

Cara

Laboratorium

PDGM

Pembacaan hasil

Tidak dapat dimanfaatkan untuk hasil yang sangat segera

Hasil segera pada waktu itu

Ketersediaan

Tidak tersedia pada jam-jam tertentu

Tersedia sepanjang 24 jam

Pengambilan darah

Memerlukan pengambilan darah dari vena

Tusuk ujung jari

Tenaga yang diperlukan

Memerlukan peran pengirim sampel ke laboratorium dan teknisi pemeriksa

Tidak memerlukan pengiriman, dapat diselesaikan oleh pasien atau perawat

Sumber : Kariadi, 2009, h.108

g. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kadar Gula Darah

Menurut Prawiro (2009), ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengendalian kadar gula darah, diantaranya sebagai berikut:

1) Olah raga atau aktifitas fisik ringan

Kurangnya aktivitas fisik merupakan faktor risiko utama terjadinya DM tipe II, sedangkan kegemukan/obesitas merupakan faktor risiko terpenting untuk terjadinya diabetes. Aktivitas fisik diketahui dapat memperbaiki sensitivitas insulin (menurunkan resistensi insulin), memodifikasi abnormalitas lemak (menurunkan total lemak dan massa lemak) dan hipertensi.

Pada Nurses Health Study ditemukan bahwa berolah raga selama 7 jam per minggu menurunkan risiko DM tipe II sebanyak 39% dibandingkan mereka yang hanya berolah raga ½ jam per minggu. Selain itu risiko terjadinya DM tipe II pada subjek yang melakukan olah raga lebih kecil 25-60% tanpa dipengaruhi adanya faktor-faktor risiko lainnya seperti obesitas dan riwayat DM pada keluarga.

2) Diet atau pola makan

Dalam studi yang dilakukan oleh Marshall et al ditemukan adanya hubungan antara lemak jenuh (saturated fat) dengan tingginya gula dalam darah. Selain itu pada San Luis Valley Diabetes Study juga ditemukan bahwa komsumsi lemak akan mempercepat seseorang dengan GTG menjadi DM tipe II. Oleh karena itu penderita DM tipe II dianjurkan untuk mengurangi asupan asam lemak jenuh. Anjuran asupan lemak di Indonesia menurut Perkeni adalah 20-25% dari total kalori.

Serat dari buah-buahan dan sayur-sayuran mempunyai efek protektif yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan serat yang didapat dari cereal. Anjuran asupan serat di Indonesia menurut Perkeni adalah 25 gram serat per hari dengan mengutamakan serat larut.

Walaupun karbohidrat meningkatkan kadar gula darah setelah makan namun menghindari karbohidrat sama sekali tidak akan mengembalikan kadar glukosa darah menjadi normal. Ini disebabkan karena pada penderita diabetes kadar glukosa darah meningkat baik pada keadaan puasa maupun setelah makan. Selain itu karbohidrat merupakan komponen penting dalam diet karena merupakan sumber berbagai nutrisi termasuk serat, mineral, dan vitamin yang larut dalam air serta merupakan sumber energi primer untuk otak dan susunan saraf pusat. Oleh karena itu diet rendah karbohidrat tidak dianjurkan dalam penatalaksanaan diabetes. Yang berpengaruh terhadap kadar glukosa darah adalah banyaknya (gram) karbohidrat dan tipe karbohidrat dari suatu makanan. Dalam hal ini termasuk bentuk fisik dari makanan tersebut (jus buah atau buah utuh), kematangannya, derajat pengolahan makanan tersebut, dan cara penyajiannya (metode memasak, panas dan kelembaban yang digunakan).

3) Usia

Usia lanjut yang berkaitan dengan resistensi insulin akibat kurangnya massa otot dan perubahan vaskuler. Sebagian besar DM tipe I terjadi sebelum usia 30 tahun, sedangkan DM tipe II biasa terjadi pada anak-anak dan dewasa, tetapi biasanya terjadi setelah usia 30 tahun (Soegondo 2008). Pada usia diatas 65 tahun, memiliki peningkatan gula darah yang tinggi yaitu gula darah puasa 100-125 mg/dl dan 2 jam sesudah makan 145-180 mg/dl (Prawiro 2009).

Beberapa studi menunjukkan bahwa terdapat perubahan HbA1c 0,1% per dekade setelah usia 30 tahun. Selain itu pada penderita DM tipe 2 yang lebih tua (di atas 55 tahun) perubahan glukosa darah yang ditimbulkan oleh aktivitas fisik tidaklah sama dengan mereka yang usianya lebih muda sehingga diperlukan waktu beradaptasi yang lebih lama.

4) Stress

Stress psikologis memiliki efek pada metabolisme individu (walaupun tanpa adanya diabetes) yang mengakibatkan terjadinya peningkatan kadar gula darah. Pada DM tipe II diduga bahwa stress dapat memberikan pengaruhnya terhadap kendali gula darah (glycemic control) secara langsung melalui hormonal atau secara tidak langsung melalui terganggunya perawatan diri sendiri (self-care) dari penderita.

5) Penyuluhan atau edukasi

Menurut hasil penelitian dari Noris et all (dalam Prawiro, 2009), pendidikan perawatan diri yang diberikan pada penderita dapat memperbaiki kadar HbA1c (A1C) dalam waktu 1-3 bulan dimana terdapat penurunan A1C sebesar 0,76% pada kelompok yang mendapat penyuluhan. Sedangkan pada kelompok yang tidak mendapat penyuluhan mengalami penurunan hanya 0,26 %. Namun manfaat tersebut menurun setelah 1-3 bulan dan hal ini menunjukkan bahwa perilaku yang dipelajari (learned behaviour) dapat berubah dengan berjalannya waktu.

2. Teh Rosella

a. Mengenal Rosella

Saat ini terdapat lebih dari 100 varietas rosella yang tersebar di seluruh dunia. Dua varietas yang paling terkenal adalah sabdariffa dan altissima Webster. Varietas sabdariffa mempunyai kelopak bunga yang dapat dimakan, berwarna merah atau kuning pucat dan kurang banyak mengandung serat. Sementara itu varietas altissima Webster sengaja ditanam untuk mendapatkan seratnya, karena kandungan seratnya memang tinggi. Namun kelopak bunga varietas ini tidak dapat dimanfaatkan sebagai makanan. Kedua varietas yang paling banyak dibutuhkan secara komersial tersebut banyak tumbuh di China, Thailand, Meksiko, Afrika, Sudan, Senegal dan Mali (Maryani, 2005 h.1).

b. Deskripsi Tanaman

Rosella merupakan herba tahunan yang dapat mencapai ketinggian 0,5-3 meter. Batangnya tegak, bulat, berkayu dan berwarna merah. Daunnya tunggal, berbentuk bulat telur, pertulangan menjari, ujung tumpul, tepi bergerigi dan pangkal berlekuk. Panjang daun 6-15 cm dan lebarnya 5-8 cm, tangkai daun bulat berwarna hijau dengan panjang 4-7 cm. Bunga rosella yang keluar dari ketiak daun merupakan bunga tunggal, artinya pada setiap tangkai hanya terdapat satu bunga. Bunga ini mempunyai 8-11 helai kelopak yang berbulu, panjangnya 1 cm, pangkalnya saling berlekatan, dan berwarna merah. Kelopak bunga ini sering dianggap sebagai bunga oleh masyarakat. Bagian inilah yang sering dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan minuman (Maryani, 2005 h.2).

Mahkota bunga berbentuk corong, terdiri dari 5 helaian, panjangnya 3-5cm. Tangkai sari yang merupakan tempat melekatnya kumpulan benang sari berukuran pendek dan tebal, panjangnya sekitar 5mm dan lebarnya sekitar 5 mm. putiknya berbentuk tabung berwarna kuning atau merah. Buahnya berbentuk kotak kerucut, berambut, terbagi menjadi 5 ruang, berwarna merah. Bentuk biji menyerupai ginjal, berbulu, dengan panjang 5mm dan lebar 4 mm. Saat masih muda, biji berwarna putih, dan setelah tua berubah menjadi abu-abu (Maryani, 2005 h.3).

c. Sifat Botani Tanaman

Rosella yang mempunyai nama ilniah Hibiscus Sabdariffa Linn ini merupakan merupakan anggota family malvaceae. Rosella dapat tumbuh dengan baik didaerah iklim tropis dan sub tropis. Tanaman ini mempunyai habitat asli di daerah yang terbentang dari India hingga Malaysia. Namun sekarang tanaman ini telah tersebar luas di daerah tropis dan sub tropis diseluruh dunia. Karena itu, tidak mengherankan kalau tanaman ini mempunyai nama yang berbeda-beda di berbagai Negara (Maryani, 2005 h.5).

Di Inggris dan daerah yang berbahasa inggris lainnya, tanaman ini dikenal dengan nama roselle, rozelle, sorrel, red sorrel, white sorrel, Jamaica sorrel, Indian sorrel, guinea sorrel. Di Perancis, rosella juga disebut dengan nama oseille rouge atau oseille de guinea. Di Malaysia, rosella dikenal dengan nama asam susur dan di Thailand disebut dengan kachieb priew. Zuring merupakan nama rosella di Belanda dan bisap merupakan nama rosella di Sinegal. Di Afrika disebut dengan nama karkade atau carcade. Nama terakhir inilah yang dipakai sebagai nama dagang rosella, baik dalam dunia pengobatan maupun sebagai bahan makanan di Benua eropa (Maryani, 2005 h.5).

d. Teh Rosella Sebagai Tanaman Obat (Tanaman Herbal) untuk DM tipe II.

Teh rosella mempunyai berbagai macam efek farmakologis yang lengkap. Beberapa penelitian tentang rosella sudah mulai dilakukan, diantaranya yaitu untuk hipertensi dan kolesterol. Namun selain untuk hipertensi dan kolesterol, the rosella juga dianggap mampu membantu menurunkan kadar gula darah pada penderita DM. Meskipun penelitian mengenai hal itu hanya baru dilakukan kepada mencit, tapi sudah banyak masyarakat yang mengkonsumsi teh rosella untuk menurunkan kedar gula darah pada penderita DM. Diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan kepada mencit, yang membantu menurunkan kadar gula darah yang terkandung didalam rosella adalah flavonoid sebagai antioksidan (Arifiyani 2009). Menurut DepKes RI No SPP 1065/35.15/ 05, setiap 100 gram kelopak bunga rosella mengandung :

Tabel 2.3

Kandungan Setiap 100 Gram Kelopak Bunga Rosella Menurut

DepKes RI No SPP 1065/35.15/ 05

Nama Senyawa

Jumlah

Protein

Lemak

Serat

Kalsium

Fosfor

Zat besi

Malic acid

Fruktosa

Sukrosa

Karoten

Tiamin

Niacin

Vitamin C

1,145gram

2,61 gram

12 gram

1,263 gram

273,2 mg

8,98 mg

3,31 %

0,82 %

0,24 %

0,029 %

0,117 mg

3,765 mg

244,4 mg

Sumber : Kustyawati & Ramli, 2008

Selain sumber di atas, ada juga sumber yang menyebutkan bahwa kelopak bunga rosella banyak mengandung beberapa senyawa, yaitu asam sitrat, asam malat, vitamin C, antosianin, protein dan flavonoid. Flavonoid yang terdiri dari gossy peptin, anthocyanin dan glucoside hibiscin tersebut berperan sebagai antioksidan yang membantu menetralkan radikal bebas yang menyebabkan kerusakan pada sel beta pankreas yang memproduksi insulin, sehingga meningkatkan kembali sensitifitas kerja insulin (Haryadi, 2010).

Beberapa peneliti (dalam Maryani, 2005 h.27), baik dalam negeri maupun luar negeri sudah ada yang meneliti untuk membuktikan adanya antioksidan yang cukup banyak di dalam rosella ini, diantaranya adalah :

a. Nurfarida 2006 meneliti dengan menggerus 3 kuntum rosella hingga menjadi bubuk (1,5 gram). Kemudian bubuk tersebut diberi air sebanyak 200 ml dan dimasukkan ke dalam spektrofotometer. Setelah kandungan tersebut dianalisis berdasarkan panjang gelombang yang dibiaskan oleh larutan, didapatkan kandungan antioksidan sebesar 1,7 mmol/prolox.

b. Mclntosh, seorang peneliti dari Institute of Food Nutrition and Human Health, Massey University, Selandia Baru. Meneliti kandungan eksrak rosella dengan cara mengeringkan kelopak bunga rosella pada suhu 500 C selama 36 jam. Selanjutnya, 3 gram rosella hasil pengeringan tersebut diencerkan dengan 300 ml air yang kemudian dimasukkan ke dalam spektrofotometer. Setelah dianalisis, hasilnya kelopak rosella terbukti mengandung 24 % antioksidan dan 51 % autisianin.

Selain penelitian tentang kandungan antioksidan didalam rosella, ada juga penelitian tentang manfaat antioksidan yang membantu menurunkan kadar gula darah. Penelitian ini dilakukan oleh Arifiyani (2009) dengan pembahasan penelitian pengaruh air rebusan rosella terhadap penurunan kadar glukosa darah studi eksperimental pada tikus dengan pembebanan glukosa. Dari penelitian ini didapat hasil bahwa terdapat pengaruh yang bermakna antara pemberian air rebusan bunga rosella terhadap penurunan kadar glukosa darah. Tabel hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut :

a. Tabel 2.4

Hasil Penurunan Kadar Gula Darah.

Kelompok

Nilai KGD (mmHg)

Menit ke-30

Menit ke-60

Menit ke-90

I

124,8

114,95

95,35

II

142,00

109,25

89,55

III

129,67

106,17

89,33

IV

109,33

94,95

78,017

Sumber : Arifiyani (2009)

b. Tabel 2.5

Hasil Nilai Probabilitas Uji Paired Sample Test

Kelompok

Nilai probabilitas

Menit ke-30

Menit ke-60

Menit ke-90

I

<>

<>

>0,05

II

<>

<>

>0,05

III

<>

>0,05

>0,05

IV

>0,05

>0,05

<>

Sumber : Arifiyani (2009)

Keterangan :

Sebelum diberi perlakuan pemberian air rebusan rosella, ke-4 kelompok diberi pembebanan glukosa monohidrat sebesar 1,35 gram dan diukur kadar glukosa setelah dipuasakan selama 16 jam.

Kelompok I : sebagai kontrol positif yang hanya diberi aquadest

Kelompok II : diberi perlakuan air rebusan bunga rosella 25 %

Kelompok III : diberi perlakuan air rebusan bunga rosella 50 %

Kelompok IV : diberi perlakuan air rebusan bunga rosella 100 %

e. Cara Membuat Teh Rosela Untuk Terapi DM tipe II

Teh rosella diberikan kepada diabetisi dengan cara menyeduh 3 kuntum kelopak rosela kering (teh rosella) dengan 200 cc (1 gelas belimbing) air panas, diamkan sesaat hingga air berwarna merah (<http:apotekherbal.com). Teh rosela ini dapat dikonsumsi dalam kondisi dingin atau pun hangat. Berdasarkan sumber yang didapat dari Panel on Definition and Description, Complementary and alternative Medicine (CAM) research and Methodology Conference (Snyder 2002), terapi herbal mampu menghasilkan efeknya minimal pada hari ke-7. Dari sumber tersebut, maka teh dikonsumsi 3 kali sehari selama 14 hari.



BAB III

KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep

B. Hipotesis

Hipotesis suatu jawaban sementara dari pertanyaan penelitian yang dirumuskan dalam bentuk hubungan antara dua variabel, variabel bebas dan terikat (Notoatmodjo, 2002). Rumus hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Hipotesis Nol (H0)

Tidak ada perbedaan kadar gula darah sewaktu pada penderita DM tipe II antara sebelum dan sesudah diberi teh rosella di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap Tahun 2010.

2. Hipotesis Alternatif (Ha)

Ada perbedaan kadar gula darah sewaktu pada penderita DM tipe II antara sebelum dan sesudah diberi teh rosella di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala Kabupaten Cilacap Tahun 2010.

C. Definisi Operasional

1. Variabel penelitian

Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono 2008, h. 3). Pada penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu:

a) Variabel bebas adalah variabel yang menjadi penyebab timbulnya/berubahnya variabel terikat, jadi variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi (Sugiono, 2008). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemberian teh rosella pada penderita DM tipe II.

b) Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi/yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2008). Variabel terikat pada penelitian ini adalah kadar gula darah sewaktu pada penderita DM tipe II.

2. Definisi operasional variabel penelitian

Menurut Notoatmodjo (2002), definisi operasional variabel penelitian adalah suatu definisi mengenai variabel yang dirumuskan berdasarkan karakteristik-karakteristik variabel tersebut yang dapat diamati. Definisi operasional dari setiap variabel penelitian dapat dilihat pada tabel 3.1.

Tabel 3.1

Identifikasi Variabel, Definisi Operasional Dan Skala Pengukuran.

Variabel

Definisi

Cara Ukur

Hasil ukur

Skala

Pemberian teh rosella pada penderita Diabetes Mellitus (DM) tipe II

Usaha atau kegiatan pemberian terapi pengobatan pada penderita Diabetes Mellitus (DM) tipe II dengan cara memberikan teh rosella sebanyak 3 kali sehari selama 14 hari dengan ketentuan setiap kali minum adalah menyeduh 3 kuntum teh rosella dalam 200 cc air panas (1 gelas belimbing).

Dengan memberikan teh rosella kepada semua responden

Pemberian teh rosella dikategorikan menjadi:

1. Tidak diberikan

2. Diberikan

Nominal

Kadar gula darah pada penderita DM tipe II

Kadar gula darah sewaktu pada penderita DM tipe II yang dicek pada saat sebelum dan sesudah diberi intervensi pemberian teh rosella

Dengan pemeriksaan gula darah sewaktu menggunakan glukometer standar yang kemudian dituangkan dalam bentuk checklist

Sesuai hasil pengukuran dengan satuan mg/dl

Rasio



BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimen dengan rancangan pre-post test dalam satu kelompok (One-Group Pretest-posttest Design). Pada penelitian ini mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan satu kelompok subjek. Kelompok subjek diobservasi sebelum dilakukan intervensi, kemudian diobservasi lagi setelah dilakukan intervensi (Nursalam 2003, h.88).

Dalam one group pretest-postest design adalah mengukur apa yang terjadi pada kelompok percobaan sesuai dengan kondisi awalnya sebelum eksperimen (pretest) dan perbedaan yang tampak diakhir eksperimen (posttest) tanpa kelompok kontrol. Bentuk rancangan penelitian ini sebagai berikut:

O1 : Kadar gula darah pada penderita DM tipe II sebelum dilakukan intervensi pemberian teh rosella

O2 : Kadar gula darah pada penderita DM tipe II setelah dilakukan intervensi pemberian teh rosella

O1-O2: Perbedaan kadar gula darah pada penderita DM tipe II antara sebelum dan sesudah dilakukan intervensi pemberian teh rosella.

(X) : Tindakan intervensi berupa pemberian teh rosella

B. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN

1. Populasi

Populasi menurut Notoatmodjo (2002) adalah keseluruhan obyek penelitian atau obyek yang diteliti. Populasi pada penelitian ini adalah penderita DM tipe II di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap. Data pada tahun 2009 terdapat 248 penderita DM tipe II.

2. Sampel

Sampel menurut Notoatmodjo (2002) adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Penelitian ini menggunakan “purposive sampling” yaitu pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya.

Menurut Roscoe (dalam Sugiyono 2008, h.74) ukuran sampel yang layak dalam penelitian adalah antara 30 sampai dengan 500. Karena adanya keterbatasan-keterbatasan yang dialami oleh peneliti selama proses, peneliti mendapatkan sampel sebanyak 28 orang. Adapun kriteria sampel dalam penelitian ini adalah:

1) Penderita DM tipe II dengan usia > 30 tahun, baik rawat jalan baru maupun rawat jalan lama. Diketahui dari data yang didapat di puskesmas.

2) Penderita DM tipe II yang memiliki Kadar Gula Darah Sewaktu > 200 mg/dl. Diketahui dari pemeriksaan gula darah mandiri (PDGM) oleh peneliti.

3) Klien tidak sedang menjalani terapi obat anti diabetes maupun suntik insulin. Diketahui dari data yang didapat dari puskesmas, atau menanyakan kepada klien dan keluarga klien secara langsung terapi pengobatan apa yang sedang dijalani.

4) Klien belum pernah atau tidak sedang menderita maagh. Diketahui dari data yang didapat di puskesmas atau dari data pemeriksaan laboratorium yang pernah dilakukan oleh klien.

5) Klien bersedia menjadi responden. Dengan cara memberikan penjelasan tentang jalannya penelitian dan klien mengisi surat persetujuan menjadi responden.

6) Klien bersedia mengikuti saran diet yang ditentukan oleh peneliti, seperti diet rendah lemak, rendah gula, cukup serat, cukup karbohidrat.

7) Keluarga klien bersedia bekerjasama dengan peneliti. Dengan cara memberikan penjelasan tentang prosedur penelitian.

8) Klien yang tidak rutin melakukan olah raga. Dikontrol dengan cara mengetahui berapa menit sehari dan berapa jam per minggu waktu yang digunakan untuk berolah raga. Olah raga dikatakan rutin jika melakukan olah raga selama 1 jam per hari dan 7 jam per minggu.

C. Tempat Dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap yang dimulai pada 6 Juni sampai dengan 7 Juli 2010.

D. Etika Penelitian

Etika penelitian mempunyai tujuan untuk melindungi dan menjamin kerahasiaan responden. Sebelum melakukan penelitian, peneliti mengurus perijinan guna memperoleh ijin dan menjelaskan tujuan penelitian. Surat perijinan yang dibuat oleh peneliti dimulai dari Kesbangpolinmas Cilacap, Bappeda Cilacap, Dinkes Cilacap, kemudian terakhir diserahkan ke UPT Puskesmas Adipala. Setelah prosedur perijinan selesai, maka dilanjutkan dengan menentukan responden yang akan diberi intervensi teh rosella. Sebelum menentukan responden, peneliti meminta data-data pasien DM tipe II (Diabetisi) yang melakukan rawat jalan di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala. Kemudian mendatangi diabetisi-diabetisi tersebut dari rumah ke rumah (door to door) dan menjelaskan tujuan dari kedatangan peneliti. Diabetisi tersebut kemudian dimintai kesediannya untuk mengisi kuesioner kriteria sampel dan melakukan pretest berupa pengukuran Kadar Gula Darah (KGD) Sewaktu. Diabetisi yang masuk ke dalam kriteria sampel kemudian dipilih menjadi calon responden. Calon responden tersebut diberi penjelasan mengenai tujuan, manfaat, serta prosedur pelaksanaan penelitian. Calon responden yang bersedia berpartisipasi dalam pelaksanaan penelitian selanjutnya dimintai kesediaannya kembali untuk menandatangani surat pernyataan persetujuan menjadi responden. Surat persetujuan responden ditandatangani saat responden dalam keadaan sadar dan tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Selain memberikan penjelasan kepada diabetisi, peneliti juga memberikan penjelasan kepada keluarga-keluarga calon responden, dan dimintai kesediannya untuk ikut berpartisipasi dalam penelitian ini.

E. Prosedur Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap. Cara pengumpulan data diperoleh dari :

1. Data Primer

Data primer yaitu data yang langsung didapatkan dari responden berupa pengukuran KGD Sewaktu pada pretest dan posttest. Dan check list tentang kegiatan pemberian teh rosella selama 14 hari yang diisi oleh keluarga atau pasien sendiri.

2. Data Sekunder

Data sekunder yaitu data yang didapatkan dari lingkungan penelitian berupa data di Puskesmas, yaitu data rekam medik, catatan medik, catatan keperawatan di puskesmas dan sumber lain yang mendukung penelitian ini seperti nama, umur, dan jenis kelamin.

F. Prosedur Pelaksanaan Penelitian

Setelah calon responden menandatangani surat persetujuan responden, peneliti kemudian memberikan penjelasan tentang cara konsumsi teh rosella. Teh rosella dikonsumsi sebanyak 3 kali sehari selama 14 hari. Cara konsumsi teh rosella tersebut adalah dengan menyeduh 3 kuntum teh rosella ke dalam 200 cc air panas ( 1 gelas belimbing). Selanjutnya peneliti melakukan pengukuran KGD Sewaktu (pretest) pada responden menggunakan glukotest dan memberikan sejumlah teh rosella dan checklist untuk diisi oleh keluarga responden ataupun oleh responden itu sendiri selama 14 hari. Setelah dikonsumsi selama 14 hari, peneliti kembali melakukan pengukuran KGD Sewaktu (posttest). Hasil pengukuran KGD Sewaktu sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) dilakukan pemberian teh rosella tersebut dituangkan kedalam checklist.

G. Alat Pengumpulan Data

1. Instrumen Penelitian

Menurut Notoatmodjo (2002), instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk pengumpulan data. Instrumen penelitian ini menggunakan cheklist. Cheklist adalah suatu daftar pengecek, berisi nama subyek dan beberapa gejala/identitas lainnya dari sasaran pengamatan. Pengamat tinggal memberikan tanda check (a) pada daftar tersebut yang menunjukan adanya gejala/ciri dari sasaran pengamatan. (Notoatmodjo 2002, h. 99). Sedangkan untuk mendapatkan hasil kadar gula darah, peneliti menggunakan glucotest (Gluco Dr) untuk mengukurnya. Teh rosella akan dikonsumsi oleh responden sebanyak 3 kali sehari selama 14 hari.

2. Uji Instrumen Penelitian

Sebelum dilakukan pemberian teh rosella pada penderita DM tipe II, penderita diukur terlebih dulu kadar gula darahnya, alat yang digunakan untuk mengukur kadar gula darah adalah glucotest (Gluco Dr). Disini peneliti menggunakan glucotest (Gluco Dr) dimana tidak ada kerusakan pada alat tersebut. Peneliti juga menggunakan cheklist yang diisi oleh keluarga penderita DM tipe II untuk mendapatkan hasil apakah teh rosella diminum atau tidak diminum.

a. Validitas

Menurut Nazir (2005, h.222) dalam penelitian eksperimen terdapat dua jenis validitas yaitu:

1) Validitas Internal

Untuk mengontrol variabel-variabel pengganggu diperlukan validitas yang tinggi. Penelitian eksperimen harus dibuat sedemikian rupa sehingga perbedaan yang diperlihatkan benar-benar disebabkan oleh perlakuan yang dilakukan, bukan oleh faktor atau variabel lain. Oleh karena itu peneliti mengontrol variabel-variabel yang dapat menjadi perancu yaitu dengan cara membuat kriteria sampel.

2) Validitas Eksternal

Dari jumlah populasi selama satu tahun terakhir di dapat 248 penderita, sesuai dengan Roscoe batas minimal dari sampel adalah 30 orang. Dengan validitas eksternal tersebut diharapkan hasil dari eksperimen akan cukup representatif untuk mewakili populasi.

b. Reliabilitas

Alat yang akan digunakan untuk mengukur kadar gula darah pada penelitian ini, peneliti menggunakan glucotest (Gluco Dr) yang telah teruji akuratnya, dimana alat tersebut mempunyai alat untuk mengecek validitasnya sendiri.

H. Pengolahan Data Dan Analisa

1. Pengolahan Data

Menurut Achmadi dan Narbuko (2002) pengolahan data penelitian meliputi:

a. Editing

Mengedit adalah memeriksa daftar yang telah diserahkan oleh responden. Pada penelitian ini peneliti memeriksa data yang diperoleh, baik mengenai identitas responden maupun hasil observasi.

b. Coding

Coding adalah mengklarifikasi hasil observasi tentang tingkat kadar gula darah sebelum dan sesudah dilakukan pemberian teh rosella. Untuk variabel pemberian teh rosella dibuat dengan ketentuan sebagai berikut :

1) Teh rosella tidak diminum diberi kode 0

2) Teh rosella diminum diberi kode 1

c. Tabulating

Pekerjaan tabulating adalah pekerjaan membuat tabel. Tingkat kadar gula darah sebelum dan sesudah dilakukan pemberian teh rosella kemudian diberi kode, dan selanjutnya dimasukkan kedalam tabel.

2. Analisa Data

Tahap terakhir pada penelitian adalah melakukan analisa data. Analisa data dilakukan secara bertahap dan dilakukan melalui proses komputerisasi.

a. Analisa Univariat

Analisa ini dilakukan dengan uji statistik deskriptif untuk mengetahui distribusi frekuensi kadar gula darah sewaktu penderita Diabetes Mellitus (DM) tipe II sebelum dan sesudah diberi teh rosella.

b. Analisa Bivariat

Analisa ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian teh rosella terhadap penurunan kadar gula darah pada penderita Diabetes Mellitus (DM) tipe II. Analisis yang digunakan adalah uji paired t-test. Menurut Riwidikdo (2008) uji paired t-test digunakan apabila data dikumpulkan dari dua sampel yang saling berhubungan, artinya bahwa satu sampel akan mempunyai dua data. Penggunaan uji paired t-test bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar gula darah pada penderita DM tipe II sebelum dan sesudah pemberian teh rosella.


Rumus umum paired t-test adalah :

Keterangan :

adalah rata-rata dari beda antara nilai pre dengan post

d adalah rata-rata dari beda antara nilai pre dengan post

sd adalah simpangan baku dari d

n adalah banyaknya sampel, selanjutnya hasil t hitung dibandingkan dengan t tabel, tabel t yang digunakan dengan derajat bebas (df = db = dk) = n – 1. Apabila t hitung > t tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang artinya ada beda secara





BAB V

HASIL PENELITIAN

A. GAMBARAN PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap dengan waktu penelitian dimulai pada tanggal 6 Juni – 7 Juli 2010. Data diperoleh dari catatan rekam medis yang terdapat di Puskesmas Adipala I, dari kuesioner yang diisi sendiri oleh Diabetisi dan dari hasil pengukuran kadar gula darah (KGD) Sewaktu.

Pelaksanaan pemberian teh rosella dimulai pada tanggal 7 Juni 2010 dengan cara door to door. Sebelum Diabetisi mengkonsumsi teh rosella, satu hari sebelumnya peneliti mendatangi rumah responden untuk menyampaikan maksud dan tujuan konsumsi teh rosella bagi Diabetisi dan melakukan pretest berupa pengukuran KGD sewaktu.

Pelaksanaan penelitian dimulai pada tanggal 6 Juni 2010 untuk survey tempat-tempat atau rumah Diabetisi yang akan menjadi responden. Peneliti mendapatkan responden pada tanggal 7, 11, 14, 18 dan 22 Juni 2010. Peneliti juga menyampaikan permohonan agar Diabetisi dapat mengkonsumsi teh rosella secara teratur dan diet ketat agar mendapatkan hasil yang optimal.

Pelaksanaan konsumsi teh rosella diikuti oleh 33 orang Diabetisi. Seluruh Diabetisi diharapkan mengkonsumsi teh rosella sebanyak 3 kali sehari (pagi, siang dan malam) selama 14 hari, setelah 14 hari dilakukan posttest.

Posttest untuk mengukur kadar gula darah dilakukan pada tanggal 21, 25, 28 Juni, 2 dan 6 Juli 2010. Berdasarkan hasil Posttest diketahui 28 orang mengkonsumsi teh rosella secara teratur dan 5 orang tidak teratur. Sehingga yang masuk pada responden penelitian hanya 28 Diabetisi, dan 5 Diabetisi harus drop out.

B. ANALISA UNIVARIAT

Didalam analisa univariat ini akan dibahas tentang kadar gula darah (KGD) sewaktu pada penderita DM tipe II sebelum (Pretest) dan sesudah (Posttest) diberi teh rosella. Hasil analisa univariat tersebut dapat dilihat pada penjelasan dibawah ini:

1. Kadar gula darah (KGD) Sewaktu pada penderita DM tipe II sebelum (pretest) diberi teh rosella di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap Tahun 2010.

Analisa univariat berupa kadar gula darah (KGD) sewaktu pada penderita DM tipe II di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap sebelum (Pretest) diberi teh rosella dapat dilihat pada tabel 5.1.

Tabel 5.1.

Distribusi Frekuensi KGD Sewaktu Pada Penderita DM Tipe II Sebelum (Pretest) Diberi Teh Rosella Di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap Tahun 2010.

KGD Sewaktu

N

Mean

Median

Sd

Min

Max

Pretest

28

344,11

329,00

95,741

215

550

Sumber : data primer diolah pada tahun 2010.

Berdasarkan pada tabel 5.1 dapat dijelaskan bahwa hasil analisa univariat variabel KGD sewaktu pada penderita DM tipe II sebelum (Pretest) diberi teh rosella di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I pada tahun 2010 memiliki rata-rata (Mean) KGD Sewaktu 344,11 mg/dl.

2. Kadar gula darah (KGD) Sewaktu pada penderita DM tipe II sesudah (posttest) diberi teh rosella di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap Tahun 2010.

Analisa univariat berupa kadar gula darah (KGD) sewaktu pada penderita DM tipe II di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap sesudah (Posttest) diberi teh rosella dapat dilihat pada tabel 5.2.

Tabel 5.2.

Distribusi Frekuensi KGD Sewaktu Pada Penderita DM Tipe II Sesudah (Posttest) Diberi Teh Rosella Di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap Tahun 2010.

KGD Sewaktu

N

Mean

Median

Sd

Min

Max

Posttest

28

303,93

295,50

75,577

201

510

Sumber : data primer diolah pada tahun 2010.

Berdasarkan pada tabel 5.2 dapat dijelaskan bahwa hasil analisa univariat variabel KGD sewaktu pada penderita DM tipe II sesudah (Posttest) diberi teh rosella di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I pada tahun 2010 memiliki rata-rata KGD Sewaktu 303,93 mg/dl.

C. ANALISA BIVARIAT

1. Hasil uji normalitas data

Uji normalitas merupakan prasyarat dalam uji parametrik. Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah populasi sampel berdistribusi normal atau tidak (Wiyatno, 2008, h.28 ). Uji ini biasanya digunakan untuk mengukur data berskala ordinal, interval ataupun rasio.

Pada penelitian ini menggunakan uji normalitas one sample Kolmogorov-Smirnov. Kriteria uji yaitu jika nilai hitung signifikansi (r) > 0,05 maka data tersebut berdistribusi normal dan sebaliknya (Dahlan, 2008,h. 68). Hasil uji normalitas pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 5.3.

Tabel 5.3.

Hasil Uji Normalitas Dengan Menggunakan Kolmogorov-Smirnov

Kadar Gula Darah (KGD) Sewaktu

Nilai Statistik

ρ

α

Keterangan

KGD Sewaktu Pretest

0,151

0,101

0,05

Normal

KGD Sewaktu Posttest

0,121

0,200

0,05

Normal

Sumber : data primer diolah pada tahun 2010

Berdasarkan pada tabel 5.3 dapat diketahui bahwa telah diperoleh hasil nilai kemaknaan untuk dua kelompok data adalah > 0,05. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa distribusi kedua kelompok data adalah normal (Dahlan, 2008, h.68).

2. Perbedaan KGD Sewaktu pada penderita DM tipe II antara sebelum (Pretest) dan sesudah (Posttest) diberi teh rosella di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap tahun 2010.

Analisa bivariat dalam penelitian ini dilakukan untuk membuktikan hipotesis yang telah dibuat sebelumnya, sehingga dapat diketahui pengaruh pemberian teh rosella terhadap penurunan kadar gula darah pada penderita DM tipe II di Wilayah kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap tahun 2010. Hasil analisa bivariat selengkapnya dapat dilihat pada tabel 5.4.

Tabel 5.4.

Perbedaan Rata-Rata KGD Sewaktu Pada Penderita DM Tipe II Antara Sebelum (Pretest) Dan Sesudah (Posttest) Diberi Intervensi Teh Rosella Di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap Tahun 2010.

Variabel

N

Mean

Standar Deviasi

Standar Error

t hitung

ρv

KGD Sewaktu

Pre-Post

28

40,179

40,160

7,590

5,294

0,000

Sumber : data primer diolah pada tahun 2010.

Dapat dilihat bahwa pada table 5.4 menunjukkan rata-rata (Mean) penurunan KGD Sewaktu pada penderita DM tipe II sebesar 40,179 mg/dl, dan dapat simpulkan terdapat perbedaan rata-rata (Mean) KGD Sewaktu pada sebelum dan sesudah diberi teh rosella.

Hasil uji statistik diperoleh ρv = 0.000 (α = 0,05), yang berarti ρv lebih kecil dari α. Adapun dengan perhitungan uji t, terdapat hasil bahwa t hitung adalah 5,244. Selanjutnya hasil t hitung dibandingkan dengan t tabel, dimana tabel t tersebut menggunakan derajat kebebasan (df = db = dk) = n – 1= 28 – 1 = 27. T tabel yang diperoleh adalah 2,052, sedangkan t hitung yg diperoleh adalah 5,294. Dari perbandingan tersebut dapat diketahui bahwa t hitung lebih besar dari t tabel, yang artinya secara statistik adalah Ho ditolak atau Ha diterima. Berarti ada perbedaan rata-rata (Mean) KGD Sewaktu secara statistic pada sebelum dan sesudah diberi teh rosella.



BAB VI

PEMBAHASAN

A. INTERPRETASI DAN DISKUSI HASIL

1. Kadar Gula Darah (KGD) Sewaktu pada penderita DM tipe II sebelum diberi teh rosella di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap Tahun 2010.

Berdasarkan data hasil penelitian pada tabel 5.1 dapat diketahui bahwa pada penderita DM tipe II sebelum diberi teh rosella memiliki KGD Sewaktu rata-rata 344,11 mg/dl. Hal ini sesuai dengan salah satu kriteria diagnostik DM tipe II yang ditentukan oleh Persatuan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) tahun 2006 dalam Shahab (2006), bahwa pada gejala tersebut terdapat gejala klasik DM (poliuri, polifagi dan polidipsi) disertai dengan KGD Sewaktu > 200 mg/dl.

Menurut Prawiro (2009), KGD Sewaktu yang tinggi pada penderita DM tipe II dikendalikan oleh beberapa faktor yaitu olah raga/aktifitas fisik ringan, diet/pola makan, usia, stress dan edukasi. Kurangnya olah raga/aktifitas fisik ringan pada penderita DM tipe II dapat menyebabkan peningkatan resistensi insulin didalam tubuh. Dimana pankreas tetap menghasilkan insulin namun tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara efektif, sehingga terjadi peningkatan kadar gula didalam darah (hiperglikemia).

Faktor kedua yang mengendalikan KGD adalah diet/pola makan. Asupan lemak jenuh, banyak dan tipe karbohidrat yang dikonsumsi amat sangat mempengaruhi tingginya kadar gula dalam darah. Anjuran asupan lemak menurut Perkeni (2006) dalam Shahab (2006) adalah 20-25 % dari total kalori. Konsumsi karbohidrat juga amat sangat mempengaruhi peningkatan kadar gula darah. Namun diet ketat karbohidrat tidak disarankan, karena dengan menghindari karbohidrat sama sekali tidak dapat membuat kadar gula dalam darah menjadi normal. Yang berpengaruh dalam peningkatan kadar gula didalam darah adalah jenis dan jumlah karbohidrat yang dikonsumsi. Karbohidrat perlu dikonsumsi karena merupakan sumber berbagai nutrisi termasuk serat, mineral, dan vitamin yang larut dalam air serta merupakan sumber energi primer untuk otak dan susunan saraf pusat.

Selain diet/pola makan, usia juga merupakan faktor yang mempengaruhi kadar gula darah seseorang. Menurut Soegondo (2008), DM tipe II biasanya muncul pada usia lebih dari 30 tahun, atau memasuki dewasa tua. Dimana pada usia lanjut akan terjadi resistensi insulin akibat kurangnya massa otot dan perubahan vaskuler. Hal tersebut menyebabkan glukosa tidak mampu diubah oleh insulin dan tetap berada didalam darah. Sama halnya dengan usia, stress yang dialami oleh penderita DM juga mengakibatkan peningkatan kadar gula didalam darah. Hal ini dapat terjadi karena stress berpengaruh kendali gula darah (glycemic control), saat seseorang stress, pusat emosi akan mengantarkan pesan-pesan saraf (impuls) ke hypothalamus, yaitu suatu bagian dari pusat emosi yang terletak dibagian dasar dan tengah otak besar. Kemudian hypothalamus akan mengolah impuls saraf tersebut, memproduksi dan melepaskan suatu zat yang disebut Corticothropin Releasing Hormon (CRH) kepada bagian otak yang lain yang berada dibawahnya, hipofisis atau pituitary. CRH kemudian akan merangsang hipofisis untuk melepaskan Adrenocorticotropin Hormone (ACTH) ke dalam sirkulasi darah. CTH akan sampai ke ginjal, kemudian akan merangsang kelenjar adrenal untuk memproduksi adrenalin, noradrenalin dan kortisol (Moleculer Stress dalam Stress dan Psikis, 2010). Hormon-hormon ini mempersiapkan seseorang untuk bereaksi cepat dan efektif dalam mengatasi tekanan pada saat ini. Hormon-hormon tersebut juga meningkatkan kerja jantung, bernafas lebih cepat, tekanan darah dan metabolism. Pembuluh darah melebar agar lebih banyak darah yang mengalir ke otot, sehingga menyebabkan otot berkontraksi. Hati melepaskan glukosa yang disimpan untuk meningkatkan energi tubuh, sehingga menyebabkan kadar gula dalam darah meningkat (Stress, 2008). Bukan penderita diabetes memiliki mekanisme kompensasi tersendiri untuk tetap menjaga kadar gula darah agar tetap dalam kendali tubuh. Namun bagi penderita diabetes, mempunyai mekanisme kompensasi yang kurang baik atau tumpul, sehingga tidak mampu mengendalikan kadar gula dalam darah dan menyebabkan peningkatan kadar gula darah yang tinggi didalam darah (Stress dan Diabetes, 2010).

2. Kadar Gula Darah (KGD) Sewaktu pada penderita DM tipe II sesudah diberi teh rosella di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap Tahun 2010.

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.2 dapat diketahui bahwa pada penderita DM tipe II sesudah diberi teh rosella memiliki KGD Sewaktu rata-rata 303,93 mg/dl. Dari hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa terjadi penurunan KGD Sewaktu pada penderita DM tipe II karena mendapat intervensi berupa pemberian teh rosella. Teh rosella mengandung zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh dalam mengontrol KGD seperti serat dan antioksidan. Pendapat tersebut merujuk pada ketentuan yang ditetapkan oleh DepKes RI No SPP 1065/35.15/ 05 (Kustyawati&Ramli, 2008), didalam 100 gram rosella kering terdapat Vitamin C sebesar 244,4 mg dan serat sebesar 12 gram.

Ketentuan tersebut tidak beda jauh dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mclntosh, seorang peneliti dari Institute of Food Nutrition and Human Health, Massey University, Selandia Baru. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa didalam 3 kuntum rosella kering yang dilarutkan dalam 300 ml air dan simasukkan ke dalam spektrofotometer, terkandung antioksidan sebanyak 24%. Penelitian tersebut diperkuat lagi oleh penelitian yang dilakukan Nurfarida (2006). Dari hasil penelitiannya, terbukti terdapat antioksidan sebanyak 1,7 mmol/prolox dalam 3 kuntum rosella kering yang dilarutkan kedalam 200 cc air dan dimasukkan ke dalam spektrofotometer.

Merujuk pada ketentuan yang ditetapkan oleh DepKes RI No SPP 1065/35.15/ 05 (Kustyawati&Ramli, 2008), selain mengandung antioksidan yang cukup tinggi, didalam teh rosella juga terkandung serat. Menurut Retnaningsih (2008), serat disini berfungsi mengontrol kadar gula dalam darah dengan tiga efek fisiologis dari serat tersebut yaitu viskositas, kapasitas pengikatan air dan fermentabilitas. Efek fisiologis dari serat yang membantu mengontrol kadar gula didalam darah adalah viskositas dan fermentabilitas, dimana viskositas bekerja dengan cara membantu menunda pengosongan perut, memperpanjang waktu transit (dari mulut sampai usus), dan mengurangi kecepatan absorbsi di dalam usus halus. Sehingga memperlambat absorpsi glukosa kedalam darah. Sedangkan efek fermentabilitas pada serat adalah suatu afek dimana serat ini mampu terfermentasi secara sempurna oleh tubuh dan tidak mempunyai efek melancarkan buang air besar (laxative). Sehingga serat larut ini bermanfaat untuk penderita DM karena mampu membantu menurunkan kadar kolesterol darah dan memperbaiki metabolisme karbohidrat.

3. Perbedaan Kadar Gula Darah (KGD) Sewaktu pada penderita DM tipe II antara sebelum dan sesudah diberi teh rosella di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap Tahun 2010.

KGD Sewaktu sebelum (pretest) dilakukan pemberian teh rosella memiliki rata-rata KGD Sewaktu 344,11 mg/dl, sedangkan KGD Sewaktu sesudah (posttest) dilakukan pemberian teh rosella memiliki rata-rata KGD Sewaktu 303,93 mg/dl. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.4 diketahui bahwa terdapat rata-rata penurunan KGD Sewaktu sebesar pada penderita DM tipe II sebesar 40,179 mg/dl, nilai rv antara KGD Sewaktu pada penderita DM tipe II sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) sebesar 0,000 (nilai rv <>rv dan t hitung tersebut menunjukkan ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara KGD Sewaktu sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) dilakukan pemberian teh rosella.

Adanya penurunan KGD Sewaktu antara sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) dikarenakan adanya perlakuan yang diberikan yaitu sebelum dilakukan posttest penderita DM tipe II telah mengkonsumsi teh rosella selama 2 minggu. Hasil penelitian tidak jauh berbeda dengan penelitian yang menjelaskan bahwa air rebusan teh rosella dapat menurunkan kadar gula dalam darah pada mencit. Penelitian oleh Arifiyani (2009) dengan judul Pengaruh Air Rebusan Bunga Rosella Terhadap Kadar Glukosa Darah Studi Eksperimental Pada Tikus Dengan Pembebanan Glukosa. Dari penelitian tersebut, Arifiyani mengungkapkan bahwa yang berpengaruh dalam menurunkan kadar gula darah adalah dengan adanya flavonoid yang cukup tinggi. Flavonoid tersebut berperan sebagai antioksidan, dimana menurut Haryadi (2010) antioksidan bekerja membantu menetralkan radikal bebas yang menyebabkan kerusakan pada sel beta pankreas yang memproduksi insulin, sehingga meningkatkan kembali sensitifitas kerja insulin.

Selain adanya antioksidan yang cukup tinggi, merujuk pada ketentuan DepKes RI No SPP 1065/35.15/ 05 dalam Kustyawati & Ramli (2008), didalam rosella juga terdapat serat yang cukup tinggi. Serat berfungsi untuk mengendalikan kadar gula darah, hal tersebut merujuk pada pendapat yang disampaikan oleh peneliti dari National Institute of Diabetes, Digestive and Kiddney Diseases di Amerika bahwa serat larut memang mampu mengurangi kebutuhan tubuh akan insulin karena serat larut dapat memperlambat penyerapan karbohidrat dan mencegah peningkatan kadar gula darah yang tiba-tiba. Hal tersebut sejalan dengan pendapat yang disampaikan oleh Retnaningsih (2008) bahwa serat larut mampu menekan kadar gula darah dengan tiga efek fisiologisnya yaitu viskositas, kapasitas pengikatan air dan fermentabilitas. Ketiga efek fisiologis tersebut menyebabkan penundaan pengosongan perut dan mengurangi kecepatan absorbsi, sehingga membantu memperbaiki absorbsi karbohidrat dan mampu mengontrol kenaikan kadar gula darah setelah makan. Pendapat tersebut sesuai dengan penelitian yang dimuat di New England Journal of Medicine (2000), bahwa terdapat penurunan kadar gula darah secara signifikan pada konsumsi 50 gram serat per hari, bahkan dapat mengurangi kebutuhan akan obat diabetes (Cegah dan Atasi Diabetes dengan Serat Makanan, 2010).

B. KETERBATASAN PENELITIAN

Penelitian tentang pengaruh teh rosella terhadap penurunan Kadar Gula Darah (KGD) Sewaktu pada penderita DM tipe II, memiliki keterbatasan sebagai berikut:

1. Desain penelitian yang dipakai pada penelitian ini adalah pre-experiment dengan rancangan One Group Pretest-Posttest Design. Desain ini masih lemah untuk menggambarkan sejauh mana pengaruh teh rosella terhadap penurunan KGD Sewaktu pada penderita DM tipe II karena tidak ada kelompok pembanding. Desain yang lebih tepat adalah quasi experiment with control group desaign.

2. Pada penelitian ini, konsumsi teh rosella dilakukan sebanyak tiga kali sehari selama dua minggu berturut-turut. Namun, ada responden yang tidak teratur mengkonsumsi teh rosella, sehingga responden menjadi berkurang jumlahnya dari 33 orang menjdai 28 orang. Maka jumlah sampel mungkin belum mewakili dari seluruh populasi dan menyebabkan kurangnya kekuatan dalam penelitian ini. Sampel yang tepat adalah menggunakan sampel menurut Roscoe (dalam Sugiyono, 2008), bahwa ukuran sampel yang layak dalam penelitian adalah antara 30 sampai dengan 500.

3. Terdapat kesulitan dalam pengambilan data pretest dan posttest berupa KGD Sewaktu. Pengambilan data pretest dan posttest tersebut dilakukan dari rumah ke rumah (door to door), sehingga waktu pengambilan data pretest dan posttest antara responden yang satu dengan responden yang lain tidak bersamaan dan memungkinkan menyebabkan hasil yang diperoleh bias terkait waktu pengambilan KGD Sewaktu.

C. IMPLIKASI DALAM PELAYANAN DAN PENELITIAN

Berpedoman pada hasil penelitian, dapat dibuat implikasi hasil penelitian terhadap pelayanan adalah sebagai berikut :

1. Pemberian teh rosella ini mempunyai pengaruh tehadap penurunan KGD Sewaktu pada penderita DM tipe II sehingga dapat direkomendasikan sebagai penatalaksanaan pengobatan non farmakologis atau dapat juga dimasukkan kedalam program diet penderita DM tipe II sebelum pengobatan farmakologis dilakukan.

2. Penelitian ini telah memberikan dampak positif berupa tambahan wacana tentang pengaruh pemberian teh rosella terhadap penurunan KGD Sewaktu pada penderita DM tipe II di Wilayah Kerja Puskesmas Adipala I Kabupaten Cilacap, oleh karena itu dapat dijadikan alternatif dalam pemecahan masalah yang berkaitan dengan peningkatan kasus DM tipe II dikalangan masyarakat yang disebabkan karena pola hidup yang tidak sehat.

3. Penelitian ini memberikan hasil bahwa terdapat pengaruh antara konsumsi teh rosella secara teratur dengan penuruna KGD Sewaktu pada penderita DM tipe II, maka dapat dilakukan penelitian yang lebih luas menggunakan cek KGD puasa ataupun 2 jam setelah makan kepada semua tipe DM.



BAB VII

SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN

Berdasarkan pada hasil pene;itian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Rata-rata KGD Sewaktu pada penderita DM tipe II sebelum diberi teh rosella adalah 344,11 mg/dl, dengan nilai minimum 215 mg/dl dan nilai maksimum 550 mg/dl.

2. Rata-rata KGD Sewaktu pada penderita DM tipe II sesudah diberi teh rosella adalah 303,93 mg/dl, dengan nilai minimum 201 mg/dl dan nilai maksimum 510 mg/dl.

3. Terdapat rata-rata penurunan KGD Sewaktu pada penderita DM tipe II sebesar 40,179 mg/dl, dan dapat pula disimpulkan bahwa ada perbedaan yang bermakna secara statistik antara KGD Sewaktu pada penderita DM tipe II sebelum dan sesudah diberi teh rosella (ρv = 0,000, α = 0,05, t hitung = 5,294).

B. SARAN

1. Bagi Tenaga Kesehatan atau Perawat

Tenaga kesehatan khususnya perawat perlu menambah pengetahuannya tentang macam-macam terapi non farmakologis untuk mengontrol kadar gula darah pada penderita DM tipe II, khususnya terapi menggunakan teh rosella.

2. Bagi Penderita DM Tipe II

Penderita DM tipe II hendaknya mengkonsumsi teh rosella secara teratur dan rutin setiap hari, disertai dengan pola makan yang sehat dan olah raga ringan setiap hari.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Bagi peneliti selanjutnya dapat mengembangkan penelitian yang berhubungan dengan teh rosella, seperti:

a. Penelitian pengaruh pemberian teh rosella terhadap penurunan kadar gula darah (KGD) Sewaktu pada penderita DM tipe II dengan menggunakan kelompok kontrol dan jumlah sampel yang mewakili jumlah populasi, serta menggunakan frekuensi waktu selama 1 bulan.

b. Perbedaan efektifitas teh rosella dengan OAD (Obat Anti Diabetes) dalam menurunkan Kadar Gula Darah (KGD) pada penderita Diabetes Mellitus.